Fungsi Aturan

“Baik Bapak Ibu…. Tolong perhatikan saya. Aturan dalam permainan ini adalah…..”

Kami semua pun mencermati aturan main yang harus kami perhatikan dalam permainan yang akan kami lakukan. Dan begitu permainan dimulai, ternyata bukan hanya hasil akhir yang penting. Bukan hanya siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi juga proses selama permainan itu. Siapa yang keluar jalur dari aturan yang ditetapkan, siapa yang bisa berkreasi dan berkompetensi tetapi tetap berada dalam jalur.

Biarpun hasilnya bagus, jika menyalahi aturan dalam prosesnya, ternyata tidak sesuai tujuan. Dan tentu saja itu dinyatakan kalah dan didiskualifikasi / digugurkan. Sayang sekali bukan? Begitulah proses yang kami alami selama beberapa hari mengikuti kegiatan pengembangan diri itu. Bagi saya pribadi, bukan hanya hasil akhir dari setiap sesi yang penting, tetapi justru selama berproses. Ternyata aturan memang memegang peranan penting. Mengapa?

Saya masih ingat betapa repotnya kami saat harus menjelaskan mengapa harus ada peraturan ke anak-anak. Lalu mengapa harus ada sanksi? Kebanyakan kami menjawab aturan ada karena untuk menjaga kelancaran sebuah proses, aturan ada untuk membentuk kedisiplinan, aturan ada untuk menjaga ketertiban, dan lain sebagainya. Tentu jawaban itu tidaklah salah. Tetapi yang sulit adalah menanamkan pengertian dan pemahaman kepada setiap orang akan pentingnya aturan itu sendiri. Bukan hanya karena harus mematuhi, tetapi sadar mengapa memperhatikan aturan itu sendiri.

Mungkin perlu ditanamkan bahwa mematuhi aturan adalah suatu bentuk dari latihan diri agar kita bisa mengendalikan diri terhadap segala keadaan yang ada. Mau tidak mau, dimanapun dan kapanpun kita berada, kita akan selalu menemui keadaan yang ‘membatasi’ kita. Jika kita terbiasa tidak mematuhi aturan, maka kita akan susah mengendalikan diri maupun susah beradaptasi. Lebih lanjut, jika dibiarkan semaunya saja, kita akan menjadi makhluk yang berbahaya.

Ada banyak contoh yang membuat saya berpikir akan bahayanya makhluk hidup jika tidak ada aturan yang membatasi. Saat kita melihat pertunjukkan sirkus dengan menggunakan binatang buas, tentulah ada pagar pembatas dengan penonton. Jika tidak ada pagar, bukan tidak mungkin suatu saat binatang buas tadi akan lepas kendali dan melukai penonton bukan? Atau saat saya melihat ular yang baru ditangkap oleh warga. Ular tersebut dimasukkan dalam kandang berjeruji kawat, sehingga ular tersebut biarpun tidak nyaman karena jadi bahan tontonan, ia hanya mampu berputar-putar di dalam kandang. Coba jika tidak ada kandang, bukankah ia bisa tidak terkendali dan membahayakan banyak orang? Sama halnya saat saya melihat ikan piranha peliharaan tetangga saya. Dia begitu marah saat digoda dengan telunjuk tangan yang digesek-gesekkan ke kaca aquarium dari luar. Coba jika tidak ada kaca pembatasnya, bukankah ia akan benar-benar memakan jari-jari saya?

Dan bagi manusia, aturan bukanlah hanya sebatas pembatas. Ia terlebih pengkondisian pikiran. Jika dibiarkan lepas tanpa kendali, bukankah pikiran kita sangatlah tidak terbatas? Apalagi manusia juga mempunyai naluri yang tidak bisa diduga sampai mana batas akhirnya.  Maka adanya aturan akan membuat kita menjaga gerak pikiran sampai batas-batas tertentu, karena jika tidak dibatasi, maka manusia akan jauh lebih berbahaya daripada hewan. Dan sekarang ini bukankah sudah terbukti, betapa manusia bisa menjadi jauh lebih kejam daripada binatang? Baru pagi tadi saya melihat berita di televisi, bagaimana seseorang tega membunuh anak kecil tetangganya karena ia berselisih paham dengan ayah anak tadi. Lihat, bukankah si anak kecil tidak ada salahnya dengan dia? Dan sekali lagi, manusia jauh lebih kreatif. Agar tertutupi jejaknya, anak tadi setelah dibunuh tubuhnya dilapisi semen, sehingga dikira banyak orang sebagai patung anak kecil. Bukankah ini menandakan bahwa pikiran kita akan menjadi sangat berbahaya jika tidak dibiasakan dilatih dengan batasan-batasan?  (Set).

Saat Yang Tepat Untuk Berkembang

“Dulu ia tidak begini….”

Itulah kesan pertama yang saya lontarkan. Jauh berbeda dari 10 tahun yang lalu. Jika dulu terkesan malu-malu, ingin aman dan nyamannya saja, kalau bisa selalu di belakang,sekarang tampak sangat percaya dengan kemampuannya sendiri. Tidak ada kesan kurang percaya diri, seakan sifat yang melekat dulu itu kini menguap entah kemana. Kemanakah hilangnya semua itu?

Semua rasa heran itu pun saya utarakan terus terang kepadanya. Dia pun menjawab sejujurnya, bahwa ia tidak tahu. Dia hanya menjalani apa yang harus dijalani, mengerjakan sebaik-baiknya apa yang menjadi tanggung jawabnya, dan menerima apapun kepercayaan yang dilimpahkan kepadanya.

Setelah saya pikir-pikir, rupanya yang terakhir itulah yang membuatnya berbeda. Sejalan dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia, bertambah pula tanggung jawab yang harus dipikul. Dimulai dari berubahnya status dari seorang lajang menjadi kepala keluarga, hingga berkembang lagi menjadi seorang ayah. Dari seorang warga masyarakat biasa, kemudian dipercaya menjadi bagian kepanitiaan maupun pengurus. Semua mengalir, dan ia jalani semuanya seperti aliran air. Hingga akhirnya kini menjadi pribadi yang sangat matang. Saya masih bisa merasakan kegembiraan mengenang masa kecil kami lagi, tetapi kini ditambah sesuatu yang membuat saya kagum. Dia kini sangat matang dan bijaksana. Entah bagaimana pandangan dia terhadap saya kini.

Belajar dari pengalaman teman masa kecil saya itu, kini saya mencoba menerima apapun yang memang seharusnya saya terima. Beberapa tahun terakhir saya masih memilih untuk berada di zona nyaman saya. Cukup lakukan sesuatu yang sewajarnya saja. Jika bisa memilih, saya di belakang saja, biarkan orang lain yang di depan. Entah itu dalam suatu kegiatan di masyarakat, di tempat kerja, dalam seminar, atau kegiatan-kegiatan kecil lainnya. Padahal sebetulnya ada kesempatan dimana saya bisa belajar menjadi di depan. Tapi sekali lagi, saya masih merasa belum saatnya untuk meninggalkan zona nyaman saya.

Dan baru-baru ini, saya menerima kepercayaan tugas baru yang sebenarnya diluar perkiraan saya. Keraguan langsung saya rasakan. Apakah saya sanggup menjalaninya? Bagaimana jika terlalu menyita waktu pribadi saya? Bagaimana jika fisik saya tidak kuat? Apakah saya sudah pantas menerimanya? Kenapa saya yang dipilih?

Banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang menghantui saya. Sungguh, kembali lagi jika bisa memilih, saya ingin menolaknya saja. Tetapi apakah akan begini terus? Jangan-jangan ini memang sudah saatnya bagi saya untuk berkembang, seperti teman saya itu? Lihat, ia kini tampak semakin matang, bijak, kuat, dan terlebih lagi, ia kini tampak iklas dalam segala hal dan selalu bahagia. Hmmmm… Akhirnya saya mencoba melawan kebiasaan saya selama ini. Keluar dari zona nyaman. Bukan karena terutama ingin meniru  teman saya (walaupun tidak bisa dipungkiri ia cukup menginspirasi saya), tetapi kesadaran bahwa saya memang harus berkembang. Dan mungkin saja itu terjadi melalui bertambahnya tanggung jawab dan tugas yang dipercayakan ke pundak saya, dan tentunya kesulitan-kesulitan / tantangan yang mengikutinya. Mungkin saja tantangan dan kesulitan itu yang akan membuat saya menjadi lebih kuat bukan? Dan esoknya saya mengatakan: “Baik, saya siap mengemban tugas ini…” (Set).

Menipisnya Kadar Toleransi

“Aduh…. Maaf ya Sayang. Sudah lama menunggunya…?

“Sudah tahu pakai nanya lagi! Kok tega-teganya seh? Membuat orang menunggu selama ini?”

Dan yang terjadi selanjutnya adalah tumpahan kekesalan yang keluar deras, atau bisa juga diam tetapi muka menjadi cemberut. Jika awalnya ingin menghabiskan waktu bersama untuk memperoleh keceriaan, bisa-bisa semua sirna padahal belum memulainya. Rencana yang sudah direncanakan bisa menjadi sia-sia. Jika keadaan sudah menjadi kacau seperti itu, terkadang butuh waktu untuk memulihkan kembali suasana hati bukan? Lalu bagaimana jika kesalahan itu ternyata dilanjutkan oleh kesalahan yang lain?

Rasa kesal, marah, dan jengkel, itu mungkin yang akan kita rasakan saat pasangan kita mulai melakukan kesalahan. Bahkan bukan tidak mungkin bisa mengurangi rasa simpati kita. Padahal di awal perkenalan dan kemudian berlanjut ke relasi pertemanan kesalahan / kekilafan kecil seperti keterlambatan, lupa akan janji, dan sejenisnya bisa kita tolerir dan kita maklumi. “Ah, tidak apa-apa. Ini hanya masalah kecil kok…. Dia tetap yang terbaik.” Mungkin itu yang terlontar dalam hati kita dulunya. Cuma herannya, setelah relasi berlanjut ke tahap yang lebih dekat, pacaran misalnya, kesalahan-kesalahan kecil seperti di atas bisa menjadi sesuatu yang cukup untuk menyulut pertengkaran. Apalagi jika relasinya sudah berlangsung dalam waktu yang lama, wah bisa-bisa mengurangi rasa suka dan sayang kita. “Kok dia sekarang seperti ini ya? Tidak tepat waktu, tidak peka, tidak perhatian seperti dulu. Sekarang berubah… Ih, menyebalkan! Bikin jengkel saja!”

Benar begitu ga seh? Ehmmmm… Mungkin tidak semua mengalaminya juga seh. Tetapi jika kita renungkan, banyak juga yang mengalami proses seperti contoh di atas. Bahkan ada seorang rekan yang sharing, karena pusingnya dia sampai bilang ke pacarnya, mengapa seh sekarang sedikit-sedikit mengeluh? Salah sedikit saja sudah diomeli, bahkan terkadang pakai ngambek berhari-hari segala? Bagaimana jika sikapnya diubah saja seperti dulu, saat masih menjadi teman? Jadi biarpun statusnya pacar, sikapnya seperti pertemanan saja, karena dulu saat masih berstatus teman rasanya kok lebih menyenangkan? Datang terlambat, ya tidak apa-apa. Lupa akan janji, ya dimaklumi. Semua terasa berjalan lurus, penuh toleransi akan kelemahan atau kekurangan yang dimiliki teman.

Saat mendengar sharingnya saya juga mengamini, karena pernah mengalaminya juga. Pernah suatu saat pinggang saya yang bengkak tersenggol oleh orang yang berpapasan. Saya pun meringis kesakitan. Tetapi begitu orangnya meminta maaf saya pun segera memaafkan. “Oh tidak apa-apa kok Pak….” Besoknya, saat bercanda secara tidak sengaja pacar saya memukul bagian tadi. Dan yang terlontar spontan adalah perkataan penuh emosi: “Gimana seh? Kan sudah saya bilang, pinggang saya bengkak!” Hehehe…. Itu pun saya barengi dengan mimik marah dan jengkel. Saat dia minta maaf pun muka saya masih seperti belum rela memaafkan. Nah seperti itulah contoh kecil yang pernah saya alami. Bukan hanya sekali dua kali, tetapi banyak kali, tentu dengan berbagai pengalaman yang saya alami.

Mengapa bisa begitu ya? Entahlah. Sepertinya kadang kita menuntut terlalu banyak ke pasangan kita, sehingga kadar toleransi kita menurun. Beda saat masih sebatas teman. Dulu penuh toleransi. Sekarang setelah menjadi pacar, kesalahan sedikit bisa terasa sangat menjengkelkan. Mungkin juga jenis cinta kita yang masih dangkal. Punya pacar, tetapi hanya untuk memenuhi kesenangan sendiri. Saya senang jika pacar saya begini dan begitu, padahal pacar saya tentulah punya pribadi unik sendiri bukan? Padahal kalau benar-benar cinta, harusnya belajar menerima apa adanya… Biarlah dia menjadi dirinya sendiri, bukan menjadi seperti yang kita harapkan. Dengan berjalannya waktu relasi, bisa kita renungkan, sampai batas mana toleransi kita terhadap kelebihan dan kekurangan pasangan kita. Makin toleran atau semakin tidak toleran? Jika justru semakin tidak toleran, itu menandakan dangkalnya cinta kita…. (Set).

Jangan Berhenti Memberi Teladan

“Ahh…. Papa juga merokok tuh. Ngapain melarang saya…?”

Pernahkah mendengar bantahan seperti ini dari anak kita? Dan apa reaksi kita? Mungkin bingung menjawabnya, atau bisa juga ditanggapi dengan kemarahan. Yang jelas, jika pun belum mengalaminya, siap-siap saja untuk suatu saat mendengar orang yang kita beri nasehat membantah dengan membalikkan fakta. Bahkan jika niatnya tulus untuk kebaikan, bantahan seperti di atas semakin mungkin terjadi.

Nasehat memang baik, apalagi jika diutarakan secara tepat disertai niat tulus. Hanya saja, perlu dipikirkan, untuk jaman sekarang efektif tidak? Lalu, jika suatu saat anak kita membantah nasehat kita, apa yang sebaiknya kita lakukan? Ya jangan lelah untuk memberinya nasehat, atau jangan lelah juga mencari jalan lain agar niat baik kita bisa dipertimbangkan oleh anak kita.

Teladan! Inilah salah satu cara yang saya rasa bisa dipakai sebagai alternatif. Bukan hanya berlaku untuk rekan kerja, bawahan, tetangga, tetapi juga bahkan untuk anak dan angota keluarga kita yang lain. Jika kita memberi nasehat ke anak kita, maka anak kita mendengar. Bisa saja masuk telinga kiri lalu keluar kanan, tergantung pada suasana dan konsentrasi anak kita. Tetapi jika kita memberi teladan, anak kita akan melihat sendiri apa yang baik baginya, merenungkannya, dan mungkin menyimpulkan / membuat keputusan berdasar pilihannya sendiri secara bebas.

Beruntung saya mempunyai seorang rekan yang membuat saya yakin tentang makna keteladanan ini. Berkecimpung di dunia musik, termasuk menggantungkan hidup keluarga di sana, pastilah banyak tantangannya. Mulai dari hal kesehatan seperti tantangan godaan rokok dan minuman saat kerja di kafe-kafe atau hotel, sampai budaya negatif yang mengikutinya. Saya rasa tidak mudah bagi sebagian orang untuk menghindari hal ini jika berkecimpung selama puluhan tahun di sana. Tetapi rupanya keputusannya sudah bulat. Bukan berdasar untuk kesehatan dan kebaikan pribadi, tetapi juga terlebih karena mempertimbangkan kebaikan keluarganya. Dan sebagai konsekuensi positifnya, di usia yang hampir 60 tahun, rekan saya ini masih terlihat sehat dan bugar, anak-anak berhasil bukan hanya dalam hal pendidikan di sekolah, tetapi juga dalam hal karakter. Tidak ada anaknya yang merokok, apalagi minum minuman keras. Ketika saya tanya apa resepnya, rekan saya berkata dia tidak pernah melarang anak-anaknya untuk ini dan itu, tetapi selalu menyerahkan ke mereka untuk memilih sendiri setiap keputusan. Orang tua hanya memberi masukan, dan yang terpenting memberi contoh. Rupanya anak-anaknya tidak perlu dinasehati, tetapi sudah cukup untuk melihat dengan mata sendiri apa yang baik dari karakter yang diperlihatkan orang tuanya.

Tetapi ada juga pengalaman dari rekan yang lain, mungkin dialami oleh kita semua. Kita sudah berusaha untuk bukan hanya memberi nasehat, tetapi juga dibarengi dengan memberi contoh dan teladan nyata. Kenyataannya bisa saja tindakan kita tidak digubris oleh orang lain, atau kadang bisa juga malah ditanggapi secara sinis. Jika seperti itu, yang terasa adalah rasa lelah dan putus asa. Apalagi jika sudah menyangkut orang yang kita sayangi.

Sebagai manusia, rasa lelah itu adalah sangat manusiawi. Tetapi yang terpenting adalah, kita jangan sampai menyerah dan berhenti. Jika satu dua kali teladan kita seakan tak berbekas, ya tidak apa-apa. Lakukan lagi lain kali dengan niat tulus. Masih belum berhasil lagi, ya tidak apa-apa…. Tetap lakukan apapun rasa lelah dan jengkel kita. Rekan saya yang berhasil tadi bukan hanya sekali dan dua kali dalam memberi teladan nyata bagi anak-anaknya, tetapi bahkan seumur hidupnya bukan? Saya rasa inilah formulanya…. Boleh lelah untuk memberi nasehat, contoh nyata, dan teladan kebaikan bagi anak-anak kita, bagi semua orang, tetapi tidak boleh berhenti…. Batu karang sekeras apapun akan terkikis oleh tetesan air yang terus menerus bukan? Set)

Tidak Harus Mengerti

Mencoba untuk bertahan…. Itulah yang dilakukan teman saya. Saya sendiri, mungkin para tetangga juga, tidak habis pikir sekaligus prihatin atas jalan hidup yang harus dijalaninya. Cobaan datang silih berganti seakan tiada habisnya. Bukan hanya sebulan, atau setahun, tetapi sudah bertahun-tahun. Seingat saya, begitu lepas dari bangku SMA dan memutuskan untuk terjun ke dunia kerja sekaligus berumah tangga, begitu banyak derita dan kesusahan yang harus ia alami. Jika awalnya hanya ia sendiri yang harus menanggung, tidak lama kemudian istri dan anak-anaknya pun harus mengalami. Satu hal yang dulu saya kagumi adalah kesabarannya. Tidak ada keluh yang keluar dari mulutnya…. Yah, minimal tidak saya dengar langsung.

Tetapi hati manusia memang tidak sekeras karang. Belum lama ini saya sempat bertemu dengannya, dan gurat kelelahan fisik dan mental sangat terlihat dari raut mukanya. Dan di sela obrolan pun mengalirlah rasa tidak puas, atau tepatnya tanda tanya akan nasib yang harus ia jalani. Saya pun sangat memahami. Karang saja bisa terkikis oleh tetesan air, apalagi hati manusia yang kadang lentur terhadap godaan.

“Mengapa istri dan anak-anak saya juga harus ikut menderita juga Yok? Tidak cukupkah derita yang saya alami bertahun-tahun dulu?”

“Sabar… Semua pasti ada maksud dan hikmahnya”, kata saya dengan lirih.

“Iya…apa maksudnya? Apa yang Tuhan inginkan lagi dari saya?”

Saya pun terdiam. Apa yang Tuhan inginkan dari hidup kita masing-masing, sehingga harus menjalani dan mengalami berbagai peristiwa yang menyesakkan? Semua pasti menjawabnya Tuhan menginginkan yang terbaik bagi diri kita, dengan cara yang Ia inginkan. Kadang caranya sesuai dengan harapan kita, tetapi kadang juga tidak sesuai keinginan kita. Ia punya cara tersendiri agar kita lebih kuat dan lebih baik. Hanya, masalahnya adalah kita belum bisa mempercayai, terlebih meng-imani itu semua. Mungkin kita sekedar dan mencoba mengerti  apa maksud dibalik semua derita, tetapi yang dibutuhkan sebetulnya lebih ke kepercayaan dan keyakinan. Percayai dan yakini Dia, bahwa apa yang ia putuskan untuk kita adalah yang terbaik.

Mungkin baik kalau kita ingat kembali masa kecil kita. Masih ingatkah, saat umur 5 atau 6 tahun, begitu pertanyaan yang keluar dari mulut kita, dan jawabannya banyak sekali yang tidak kita mengerti?

“Ma…. Mengapa saya tidak boleh makan es? Saya kan senang makan es, jadi biar lupa sama pusingnya…”

Dan apa jawaban mama kita? “Dede sayang, makan esnya nanti saja ya, setelah kamu sembuh. Jika makan es sekarang, nanti kamu tambah pusing….”

Nah, apakah jawaban yang seperti itu dapat selalu kita mengerti? Saat kita kecil, yang kita mengerti hanyalah bahwa es itu enak, dan seharusnya biar lupa dengan pusingnya kita makan yang enak-enak. Tetapi apa yang diminta mama untuk kita lakukan? Dia tidak mungkin memberi kita es, justru mengambil nasi sayur, dan terakhir meminta kita untuk meminum obat. Dan yang namanya obat (apalagi jarum suntik) adalah sesuatu yang tidak mengenakkan saat kita kecil. Tetapi sepahit apapun, bahkan terkadang harus muntah beberapa kali, kita mau tidak mau harus minum obat itu bukan? Tidak bertanya-tanya lagi… Tidak perlu mengerti secara mendalam juga. Yang jelas, kita percaya dan yakin dengan apa yang diminta mama kita. Titik…. Sederhana.

Herannya, semakin dewasa kita, semakin banyak yang harus kita pelajari dari masa kecil kita. Percaya dan yakin, itulah yang membuat kita sembuh dari derita saat kecil. Nah, jika kepada mama saja kita bisa begitu, apalagi yang kita butuhkan saat ini? Kita memang sudah dewasa, tetapi tentu kita tidak bisa mengerti segala hal. Itu harus kita sadari, terlebih kita hanyalah kecil dibanding denganNya. Tentu kita tidak akan mampu untuk mengerti segala yang diinginkan Tuhan dalam hidup kita. Cukup percaya dan yakin saja kepadaNya…. Kita tidak harus mengerti semua untuk menjadi baik….(Set)

Mengukur Kualitas Hidup Diri

“Mahal dikit tidak masalah, yang peng kualitasnya bagus….”

Waktu itu saya tidak segera menyahut perkataan teman saya. Perhatian saya masih tertuju ke deretan notebook di depan saya. Dalan hati saya tidak menyanggah anjurannya, dan memang dalam angan saya menginginkannya. Hanya dalam kenyataannya, apa pun notebook yang saya inginkan, harus saya sesuaikan dengan kondisi keuangan. Akhirnya saya pun membeli sebuah notebook yang pas buat saya. Pas dalam arti kualitasnya sesuai dengan spesifikasi yang saya inginkan, cocok untuk pekerjaan saya (saya hanya akan menggunakan notebook itu untuk menulis dan browsing), dan tentunya sesuai dengan uang yang ada.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengkaitkan segala sesuatunya dengan yang namanya kualitas. Mau membeli sesuatu, pasti yang dilirik pertama adalah kualitasnya (biar pun terkadang harganya dulu yang dilihat). Bahkan kadang dengan harga semurah-murahnya, menginginkan mendapatkan barang impian dengan kualitas bagus. Kita sering menuntut sesuatu dengan tolok ukur kualitas. Jika kita renungkan, alangkah kita sering mengukur dan menuntut segala sesuatu harus berkualitas. Tetapi uniknya kita jarang memikirkan sebaliknya, artinya berusaha memberikan sesuatu yang kita punya secara berkualitas. Pengennya mendapatkan sesuatu dengan kualitas bagus,tetapi jika memberi sesuatu ya ala kadarnya….. Masih untung mau memberi, kadang malah sebisa mungkin tidak memberi.

Saya pribadi menjadi berpikir, sebetulnya apa itu kualitas? Mungkin kualitas bisa diartikan sebagai tolok ukur tentang sesuatu. Dan tolok ukur itu tentunya hanya sebuah kesepakatan orang pada umumnya saja. Barang ini kualitasnya bagus karena ini dan itu. Yang itu kurang bagus karena ini dan itu. Hmmm…. Andaikan punya kehidupan, kasihan sekali ya barang yang ditakdirkan kualitasnya tidak bagus. Dan lebih-lebih, yang menentukan bagus atau tidaknya dia adalah manusia. Padahal tentunya setiap barang punya kegunaan yang pas sesuai peruntukkannya. Tidak lebih tidak kurang.

Lalu bagaimana dengan kita sendiri? Jika kita bisa menentukan segala sesuatu punya kualitas bagus atau tidak, apakah kita juga mau dan bisa menilai kualitas diri kita sendiri? Apakah yang bisa mewakili kualitas diri kita? Apakah baju kita? Jika memakai baju bagus, apakah otomatis kualitas kita bagus juga? Ataukah harta benda yang kita miliki? Ataukah kemampuan dan bakat yang Tuhan berikan kepada kita? Apakah orang yang cerdas berarti kualitasnya bagus? Jika memang kita diukur dengan tolok ukur kualitas, bagaimana nasib kita nantinya jika kualitas kita kurang dan jelek? Terakhir, siapakah yang akan senang dan bahagia jika kita berkualitas, dan siapa yang akan sedih jika kita tidak berkualitas?

Memang tidak ada yang tahu secara pasti, apakah yang membuat kita berkualitas atau tidak. Tetapi memang ada pengandaian yang bagus tentang kualitas kita, yakni bahwa kualitas kita bisa diumpamakan sebagai garam. Kenapa garam, ya karena garam adalah sebuah benda yang semua orang tahu dan selalu menggunakannya. Mungkin secara detilnya sebagai berikut ini:

  1. Garam adalah sebuah benda yang sederhana, tetapi memberi efek dan nuansa tersendiri. Lihat saja, semua masakan dapur pasti membutuhkan garam. Tidak peduli masakan apa, dari daerah mana, untuk kalangan mana, pasti ada unsure garam di dalamnya.
  2. Garam terjangkau oleh semua orang. Murah harganya, tetapi fital fungsinya.
  3. Garam larut ke dalam masakan. Garam tidak menonjolkan diri. Biar pun fungsinya fatal (masakan menjadi hambar jika tidak ada garam), tetapi saat dipakai ia melarutkan diri dalam masakan.
  4. Garam tidak egois. Masakan menjadi nikmat bukan hanya karena ada garam saja, tetapi karena campuran dari bumbu-bumbu yang ada, dan garam membutuhkan unsure yang lainnya. Berarti garam juga menginspirasi bumbu yang lain, membuat campuran bumbu sangat berguna.
  5. Garam akan sangat berguna dalam menambah kenikmatan sebuah masakan, asal dengan takaran yang pas. Biar pun fungsinya fital, ia tidak boleh digunakan digunakan terlalu banyak atau sedikit. Pas saja sesuai kebutuhan. Jika kelebihan akan menjadi sangat asin, jika terlalu sedikit akan hambar.
  6. Garam berfungsi bukan untuk dirinya, tetapi untuk kebaikan di luar dirinya. Ia membuat enak masakan, dan dinikmati oleh orang. Garam tidak memikirkan dirinya, ia diciptakan untuk semua hal di luar dirinya.

Jadi seberapa kualitas diri kita? Kita sendiri yang bisa merenungkannya…. Sudahkah kita bersikap seperti garam tadi. Jika hidup seperti garam yang baik, tentunya hidup kita akan sangat berkualitas. Yang pertama, kita harus menyadari dan mensyukuri bahwa kita semua adalah garam. Kita masing-masing dikaruniai potensi dan bakat yang bisa membuat kebaikan bagi semua orang. Jika sudah menyadarinya, langkah selanjutnya adalah bertingkah laku seperti garam. Kita berbuat sesuatu untuk kebaikan, tidak peduli apa bakat kita, tidak peduli apa status kita, kita bisa menginspirasi orang lain. Tidak perlu menonjolkan diri, cukup bersikap dan bertingkah laku sesuai kapasitas kita. Selalu berpikir dan berbuat untuk kebaikan lingkungan dan orang lain, tidak pernah egois memikirkan diri sendiri. Saat sudah seperti itu, kita hidup dengan kualitas bagus. Jika sudah berkualitas, siapakah yang akan bahagia nantinya?

Saya menjadi ingat dengan kejadian yang saya alami. Saat naik kereta, di sebuah stasiun, naiklah dua orang perempuan setengah baya. Yang menarik perhatian adalah bahwa 2 orang tadi berupa satu ibu-ibu yang menuntun seorang ibu-ibu yang sepertinya buta. Menarik, karena memang sangat ibu yang menuntun tadi terlihat sangat tulus membantu. Bukan hanya menuntun, tetapi juga terlihat sangat menyayanginya. Tidak peduli dengan pandangan semua orang, ia mengajak ngobrol ibu yang buta tadi. Entah apa hubungan di antara keduanya, tetapi yang terasa adalah hubungan saling mengasihi. Saat mencari tempat duduk pun, ibu tadi berusaha memberikan yang terbaik buat ibu buta tadi, bahkan ia rela berdiri, biar pun sebenarnya ia lebih tua. Bahkan bukan hanya kepada ibu buta tadi, saat ada rombongan penumpang berebutan mencari kursi, ia pun tanpa diminta mempersilahkan seorang remaja putri untuk menduduki tempat duduknya. Biar pun ditolak halus tentunya, rupanya semua sikap ibu tadi membuat penumpang satu gerbong menjadi terpengaruh. Dalam perjalanan selanjutnya, setiap ada penumpang wanita yang berdiri, tanpa diminta banyak orang yang mempersilahkan kursinya dipakai. Semua seakan bersaudara, padahal tidak saling mengenal. Saat itulah saya berani mengatakan dalam hati, bahwa saya mengagumi ibu tadi. Ia sungguh menjadi garam dunia. Ia seorang ibu yang biasa saja, bahkan sangat sederhana. Ia juga berbuat sesuatu yang sederhana, tetapi dikerjakan dengan tulus dan gembira. Terlihat ia murah senyum dan bisa ngobrol secara nyaman dengan siapa pun. Berbuat sederhana, tidak memperdulikan diri sendiri, selalu untuk orang lain. Dan ia menginspirasi banyak orang lain. Biar pun begitu, ia tidak terlalu mengacuhkannya, tidak menjadi sombong…. Bahkan saya rasa tidak menyadari bahwa ia menginspirasi banyak orang hari itu. Ia sungguh garam dunia. Saat seperti itulah, hidupnya sangat berkualitas. Siapa yang bahagia? Tentunya dia sendiri, juga orang lain di sekitarnya, dan tentunya Sang Penciptanya, Tuhan sendiri.…..(Set)

Pursuit Of Happyness

Beberapa topic dan pertanyaan yang sering diajukan di kolom konsultasi media massa adalah tentang kebahagiaan hidup. Banyak yang dulu yakin bahwa hidupnya akan bahagia jika mempunyai istri atau suami yang diidamkan, tetapi setelah bertahun-tahun kemudian mulai dirasakan bahwa kebahagiaan yang diidamkannya semakin menjauh. Seiring intensitas pertengkaran, mulailah timbul keraguan, jangan-jangan ia telah salah memilih suami atau istri, dan otomatis yakin bahwa ia tidak akan bahagia jika terus mempertahankan kehidupan berkeluarganya. Begitu banyak kini perceraian yang terjadi di sekitar kita.

Ada juga yang mengalami kekosongan, kesepian, dan hidupnya gersang, padahal semua mimpinya yang dulu telah tercapai. Karirnya telah mentok ke tingkat yang dulu diidamkan, demikian juga dengan materi yang diperoleh. Tetapi ternyata kepuasan yang menyertainya hanya sebentar. Dulu berpikir, saat nanti sudah menjadi manager dan bisa membeli ini dan itu, pasti hidupnya akan puas, sehingga kebahagiaan pun akan dirasakan selamanya. Tetapi ternyata tidak kenyataannya. Setelah tercapai, pikiran dan perasaan kini dipenuhi berbagai keinginan lagi dan lagi. Sampai kapan akan terus begini? Hidup serasa hanya mengejar sesuatu terus setiap waktu…..

Pun saya juga pernah punya teman yang dulu pernah berangan, alangkah bahagianya jika ia bisa punya wajah dan penampilan yang menarik seperti idolanya. Ia pun kemudian bekerja keras setiap hari pergi ke Gym, berharap minimal tubuhnya akan berotot dan atletis seperti idolanya. Tetapi yang terjadi kemudian, waktunya hanya dihabiskan hanya untuk memenuhi keinginan tentang fisiknya. Kuliah menjadi terbengkelai, hingga semuanya sepi saat teman seangkatan mulai meninggalkannya karena lulus terlebih dahulu. Dan saat badannya mulai terbentuk, goncangan pun menghampiri keyakinannya. Ternyata idolanya tersangkut kasus dan harus mendekam di penjara. Kejadian itu ternyata mempengaruhi dia juga, seakan dia juga yang terkena kasus. Kebahagiaan yang diidamkannya ternyata sangat semu, apalagi karena meletakkannya kepada orang lain. Dia menjadi sedih dan luntang-lantung…..

Betapa banyak lagi contoh-contoh actual yang menggambarkan pencarian orang akan kebahagiaan. Dan rata-rata mengatakan bahwa akan memperoleh kebahagiaan jika suatu saat memperoleh ini dan itu, akan bahagia jika istri/suaminya begini dan begitu, akan bahagia jika cita-citanya terkabul, dan lain-lain. Jadi kapan akan bahagia? Ya nanti, jika sesuatu yang diinginkan itu tercapai…. Dan akhirnya, dimana kebahagiaan itu akan diperoleh?

Jika melihat jawaban-jawaban yang dilontarkan oleh orang-orang di atas tadi, maka jelas, rupanya kebahagiaan itu terletak di suami/istrinya, di materi, di jabatan yang diinginkannya sejak lama, di cita-cita semasa kecil, di pundak orang tua, di keadaan yang diharapkan, dan lain-lain. Tetapi benarkah kebahagiaan terletak disana? Jika benar bahwa seseorang  akan bahagia jika beristri/bersuami orang yang dia idamkan, mengapa begitu ada perselisihan lalu merasakan sedih, dan tidak jarang berakhir pada perceraian? Jika benar bahagia tidaknya hidup seseorang terletak di materi yang diimpikan, lalu bagaimana nasib hidupnya selama belum mencapai materi itu? Dan mengapa setelah tercapai pun hati tetap menginginkan hal-hal yang lain lagi? Apakah seperti itu? Berarti hidup kita, dan kebahagiaan kita, terletak pada sesuatu dan orang lain. Alangkah rentan dan riskannya kebahagiaan itu jika seperti itu.

Sungguh akan sangat sulit untuk bahagia jika kebahagiaan itu terletak di materi dan kehadiran orang lain, karena dalam hidup tidak ada yang tetap. Semua pasti berubah. Demikian juga dengan materi yang kita miliki. Itu akan mudah berubah. Sekarang punya ini dan itu, besok bisa saja rusak bahkan hilang. Berarti saya menjadi tidak bahagia bukan? Jika tidak rusak atau hilang pun, rasa puas yang menyertainya tidak akan bertahan lama, dan segera akan kita sadari bahwa bukan disana kita akan bahagia. Demikian juga dengan orang-orang terdekat kita. Mereka juga adalah pribadi yang pasti berubah di mata kita. Entah berubah semakin baik, atau semakin kurang baik, sama saja, suatu saat akan tidak sesuai dengan yang kita bayangkan dulu. Saat seperti itulah, akan muncul pertanyaan, bisakah saya bisa bahagia dengannya? Dan mulailah muncul yang namanya penderitaan.

Saya rasa memang akan seperti itu. Siapa pun yang menduga dan mencari kebahagiaan melalui materi dan orang lain, entah seberapa dekatnya hubungan dengan orang lain itu, tidak akan mendapatkannya. Mungkin sesaat merasa bahagia, tetapi pasti suatu saat akan menemukan kekecewaandan berakhir penderitaan. Mengapa? Ya karena kebahagiaan itu tidak terletak pada barang, pun tidak terletak di pundak orang lain, bahkan di suami/istri/orang tua/anak/dan lain-lain. Jadi percuma mencari dan menggantungkan kebahagiaan pada mereka. Seperti suatu pencarian yang tidak akan pernah berakhir dan menjadi sebuah ironi, karena yang dicari sebetulnya ada di dalam diri kita masing-masing…..

Kebahagiaan adalah sebuah rasa pemenuhan batin/hati kita terhadap kehidupan. Bukan soal kepuasan terhadap sesuatu, tetapi rasa penuh, takjub, dan rasa syukur terhadap segala hal. Kita bisa bahagia jika bisa melihat segala sesuatu secara apa adanya, tanpa ada maksud rasa memiliki secara mutlak. Kita bisa bahagia jika bisa bersyukur akan kehadiran suami/istri di sisi kita, dengan tetap membiarkan mereka menjadi pribadi yang bebas dengan jati dirinya. Kita bisa bahagia jika bersyukur atas segala sesuatu yang ada di dalam diri kita, bisa bersyukur atas segala anugerah yang diberikan ke kita, dengan tetap memperlakukan benda-benda itu sebagaimana fungsinya, yakni sekedar benda yang bisa membantu segala aktivitas dan mendukung berbuat baik bagi sesama. Kita bisa bahagia jika bisa melihat segala sesuatunya secara obyektif dan tanpa kehendak melekat padanya. Jadi kemanakah kita harus mengejar kebahagiaan kita? Tidak kemana-mana, cukup tengok, teliti, dan buka kran hati kita…Selalu bersyukurlah akan segala sesuatu, dan melihat segala sesuatunya tidak hanya dari sudut pandang pribadi dan ego kita. Pandanglah segala sesuatu dari sudut pandang orang lain, dan tentunya sudut pandang kehendak Tuhan..…..(Set)

Empat Ketrampilan Hidup Utama Penentu Kesuksesan

Masih banyak orang tua yang memandang bahwa nilai akademik adalah syarat utama agar sukses ke depannya. Hal ini membuat mereka menuntut banyak ke anak agar nilai akademiknya bagus, bahkan rela mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk lembaga kursus ataupun les privat. Jadi anak bisa saja seharian full, dari matahari terbit hingga terbenam selalu berkutat dengan materi kognitif sekolah. Apakah sebegitu mutlaknya nilai akademik ini bagi masa depan anak-anak kita? 

Menurut saya pribadi, nilai akademik ini tetaplah penting, karena biasanya menjadi pintu gerbang di sesi administrasi saat melamar pekerjaan. Atau bisa juga, nilai akademik ini adalah cerminan dari nilai daya juang dan kerajinan anak. Hanya saja, masalahnya tidak semua anak dianugerahi potensi di bidang kognitif/pengetahuan ini. Ini perlu kita sadari selaku orang tua. Dan perlu kita sadari dan yakini, bahwa anak kita pun dianugerahi potensi khusus bagi dia. Maka yang perlu kita lakukan adalah mengembangkan secara optimal potensi ini. 

Di sisi lain, selain potensi khusus ini, ternyata kunci keberhasilan hidup seseorang di masa depan (bahkan di masa kini) adalah lebih ke ketrampilan hidup. Jika nilai akademik yang tersurat di ijazah adalah pintu masuk melewati saringan pertama administrasi, maka penentuan selanjutnya adalah ketrampilan hidup. Sebagai contoh kecil, di sesi wawancara saat seleksi pekerjaan, ketrampilan berkomunikasi adalah kunci lolos dan tidaknya. Belum nanti saat mulai bekerja meniti karir ataupun di dunia usaha. 

Maka, sangat bijak jika kita selaku orang tua mulai berbenah. Alih-alih memacu anak dengan segala macam dril pengetahuan/kognitif, akan lebih menyenangkan jika memberi anak-anak kesempatan mengembangkan ketrampilan hidupnya. Lalu apa saja ketrampilan hidup utama yang harus dikembangkan sejak dini? 

Seperti yang diyakini oleh pemangku kebijakan di dunia pendidikan, terdapat 4 ketrampilan hidup/life skills yang harus segera dikembangkan, yakni Critical Thinking and Problem Solving (berpikir kritis dan menyelesaikan masalah), Creativity (kreativitas), Communication Skills (kemampuan berkomunikasi), dan Ability to Work Collaboratively (kemampuan untuk bekerja sama).  Empat ketrampilan hidup ini biasa disebut sebagai 4C.  

Maka disinilah orang tua harus pintar memilih sekolah yang tepat agar kemampuan 4C ini bisa berkembang baik. Ada sekolah yang mementingkan nilai akademik, ada pula yang mementingkan ketrampilan hidup. Darimana kita tahu? Bisa dilihat dari program sekolahnya, dan sistem pembelajarannya.  

Lalu bagaimana dengan kita yang mungkin sudah dewasa dan sudah bekerja? Menurut saya sama saja. Kunci sukses kita tetap di 4C ini, karena memang ketrampilan hidup ini menyertai segala sendi kehidupan kita. Maka segera buat program pengembangan diri ke arah 4C ini! Dan kami siap karena memang ahlinya di bidang ini. Kami tunggu ya….  

Membangun Kewibawaan Diri

Dalam kehidupan sehari-hari, saya yakin kita semua pernah bertemu dengan seseorang yang dianggap disegani karena wibawanya oleh banyak orang. Tokoh masyarakat misalnya.  Seringkali orang yang disegani ini sudah berumur dan banyak makan asam garam dunia. Tetapi ternyata banyak juga yang usianya masih muda.

Bahkan, saya meyakini bahwa di antara orang terdekat kita, ada sosok yang demikian, yang membuat kita kagum dan hormat, meskipun beliau tidak meminta untuk dihormati. Orang seperti ini tidak mesti seorang bos atau pemimpin di tempat kita kerja. Bahkan orang yang sangat sederhana hidupnya pun banyak yang disegani dan dihormati karena kewibawaannya. Lalu bagaimanakah dengan kita? Saya yakin, banyak dari kita yang juga mengharapkan bisa menjadi sosok yang demikian.

Sebenarnya apa sih kewibawaan itu? Apakah itu semata-mata sebuah takdir yang dihadiahkan Tuhan untuk seseorang? Apakah itu bawaan lahir seperti pendapat orang-orang? Menurut saya pribadi, tidak ada yang salah dengan contoh pendapat di atas, karena rasa segan dan hormat biasanya berkaitan juga dengan rasa. Tetapi saya juga yakin  tidak semua orang paham bahwa kewibawaan itu bisa ditumbuhkan dan ditingkatkan, karena kewibawaan atau wibawa itu sendiri merupakan suatu kecakapan atau ketrampilan hidup. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wibawa adalah pembawaan untuk dapat menguasai dan mempengaruhi, dihormati orang lain melalui sikap dan tingkah laku yang mengandung kepemimpinan dan penuh daya tarik.

Dengan merujuk arti kata wibawa di atas, maka sangat terbuka bagi semua orang untuk menjadi orang yang mempunyai wibawa/berwibawa. Yang dibutuhkan adalah melatihnya, seperti kecakapan hidup yang lainnya. Jika bingung mau memulai dari mana, sebagai langkah awal, kita bisa melatih kecakapan kita dalam berkomunikasi dan public speaking. Kecakapan ini sangat dekat dan erat dengan kehidupan kita sehari-hari, sehingga memang strategis untuk dikembangkan. Langkah awal ini menjadi gerbang untuk sukses ke depannya. Bahkan di dunia pendidikan di abad 21 ini, ketrampilan/kecakapan berkomunikasi menjadi pilar pokok yang harus ditanamkan ke peserta didik, mengingat urgennya bagi kunci sukses masa depan mereka.

Maka siapapun kita, semua dapat menjadi orang yang berwibawa dan dihormati oleh orang lain, termasuk oleh anak kita sendiri.  Yang perlu dilakukan segera adalah memulai membangunnya dari hari ke hari, karena sebuah ketrampilan membutuhkan best practice setiap saat. Dan kami siap untuk menjadi rekan terbaik, sehingga prosesnya menjadi lebih efektif karena menyediakan program terstruktur. Apakah hanya untuk orang dewasa? Justru semakin muda akan semakin optimal hasilnya. Kami tunggu ya…

Modal Utama Sebuah Perusahaan di Era Revolusi Industri 4.0

Menarik untuk mencermati dan berpikir lebih dalam, fenomena perjalanan sebuah perusahaan atau organisasi di era pandemi ini. Selain banyaknya perusahaan yang gulung tikar, ternyata tidak sedikit juga perusahaan yang justru berkembang pesat, bahkan mulai bermunculan perusahaan baru. Lalu apa sih sebenarnya yang terjadi dan mengapa?

Mungkin hal ini tidak terlepas dari manajemen perusahaan sendiri. Bagaimana segi pandang perusahaan terhadap aset atau modal. Tentu satu modal yang menurut saya pribadi sangat menentukan adalah modal sumber daya manusia, atau ringkasnya modal manusia. Apakah perusahaan, minimal jajaran atas perusahaan memandang manusia sebagai
modal/capital yang bermutu tinggi, dan mampu memberikan nilai kompetitif yang kuat bagi perusahaan. Setelah dari segi pandang, lalu bagaimana memanagenya juga tidak kalah lebih penting.Bagaimana perusahaan mengatur proses dan strateginya, baik secara eksternal maupun internal.

Bersyukurlah jika sebuah perusahaan sudah mempunyai modal manusia berupa tenaga kerja yang berkualitas tinggi, dapat merencanakan, mengorganisasi, mengelola pekerjaan, dan semuanya terkait dengan teknologi informasi. Dan tidak kalah penting adalah conflict management skill di era ini. Karena untuk membangun modal manusia seperti ini harus dimulai sejak dini dari kelompok bermain atau pre-school, sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan menengah atas, juga menengah kejuruan, bukan dari perguruan tinggi. Jelas disini bahwa modal manusia berkualitas tinggi seperti di atas ternyata dicapai melalui proses panjang yang namanya pendidikan karakter. Lalu bagaimana jika modal manusia yang ada saat ini belum memenuhi standar tersebut?

Bagi saya pribadi, ada dua cara yang bisa ditempuh untuk mencapai hal itu. Yang pertama adalah memperbaharui model kepemimpinan, yakni kepemimpinan yang menyadari bahwa ide, keputusan, dan inovasi dapat timbul dari kolaborasi dan jejaring secara terbuka. Dibutuhkan kepemimpinan yang adaptif, mudah terhubung, kolaboratif, responsif terhadap setiap situasi dengan cara yang adaptif, dan berani mengambil keputusan yang tepat dan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Pemimpin adalah para penghubung yang andal yang responsif dalam sistem kolaborasi. Yang kedua adalah secara terstruktur mengupgrade seluruh sumber daya manusianya, dengan mengadakan pelatihan-pelatihan yang sesuai tuntutan era 4.0, yang segera akan mengarah ke era 5.0. Segera ciptakan budaya kerja dan budaya layanan yang GESIT dan TIDAK BERBELIT. Darimana memulainya? Bisa segera dari jajaran garda depan, yakni yang bersinggungan langsung dengan konsumen dan masyarakat seperti saptam, CS, dan lain sebagainya.

Itulah solusi ringkas tapi cepat dan real yang bisa dilakukan di era ini. Dan kami, RMI memang mempunyai visi misi yang sejalan dengan ini. Silahkan kontak kami dan berdiskusi untuk segera membangun modal utama perusahaan ini, agar survival dan berkembang di era seperti ini. Salam… (By SetTech)