Mengukur Kualitas Hidup Diri

“Mahal dikit tidak masalah, yang peng kualitasnya bagus….”

Waktu itu saya tidak segera menyahut perkataan teman saya. Perhatian saya masih tertuju ke deretan notebook di depan saya. Dalan hati saya tidak menyanggah anjurannya, dan memang dalam angan saya menginginkannya. Hanya dalam kenyataannya, apa pun notebook yang saya inginkan, harus saya sesuaikan dengan kondisi keuangan. Akhirnya saya pun membeli sebuah notebook yang pas buat saya. Pas dalam arti kualitasnya sesuai dengan spesifikasi yang saya inginkan, cocok untuk pekerjaan saya (saya hanya akan menggunakan notebook itu untuk menulis dan browsing), dan tentunya sesuai dengan uang yang ada.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengkaitkan segala sesuatunya dengan yang namanya kualitas. Mau membeli sesuatu, pasti yang dilirik pertama adalah kualitasnya (biar pun terkadang harganya dulu yang dilihat). Bahkan kadang dengan harga semurah-murahnya, menginginkan mendapatkan barang impian dengan kualitas bagus. Kita sering menuntut sesuatu dengan tolok ukur kualitas. Jika kita renungkan, alangkah kita sering mengukur dan menuntut segala sesuatu harus berkualitas. Tetapi uniknya kita jarang memikirkan sebaliknya, artinya berusaha memberikan sesuatu yang kita punya secara berkualitas. Pengennya mendapatkan sesuatu dengan kualitas bagus,tetapi jika memberi sesuatu ya ala kadarnya….. Masih untung mau memberi, kadang malah sebisa mungkin tidak memberi.

Saya pribadi menjadi berpikir, sebetulnya apa itu kualitas? Mungkin kualitas bisa diartikan sebagai tolok ukur tentang sesuatu. Dan tolok ukur itu tentunya hanya sebuah kesepakatan orang pada umumnya saja. Barang ini kualitasnya bagus karena ini dan itu. Yang itu kurang bagus karena ini dan itu. Hmmm…. Andaikan punya kehidupan, kasihan sekali ya barang yang ditakdirkan kualitasnya tidak bagus. Dan lebih-lebih, yang menentukan bagus atau tidaknya dia adalah manusia. Padahal tentunya setiap barang punya kegunaan yang pas sesuai peruntukkannya. Tidak lebih tidak kurang.

Lalu bagaimana dengan kita sendiri? Jika kita bisa menentukan segala sesuatu punya kualitas bagus atau tidak, apakah kita juga mau dan bisa menilai kualitas diri kita sendiri? Apakah yang bisa mewakili kualitas diri kita? Apakah baju kita? Jika memakai baju bagus, apakah otomatis kualitas kita bagus juga? Ataukah harta benda yang kita miliki? Ataukah kemampuan dan bakat yang Tuhan berikan kepada kita? Apakah orang yang cerdas berarti kualitasnya bagus? Jika memang kita diukur dengan tolok ukur kualitas, bagaimana nasib kita nantinya jika kualitas kita kurang dan jelek? Terakhir, siapakah yang akan senang dan bahagia jika kita berkualitas, dan siapa yang akan sedih jika kita tidak berkualitas?

Memang tidak ada yang tahu secara pasti, apakah yang membuat kita berkualitas atau tidak. Tetapi memang ada pengandaian yang bagus tentang kualitas kita, yakni bahwa kualitas kita bisa diumpamakan sebagai garam. Kenapa garam, ya karena garam adalah sebuah benda yang semua orang tahu dan selalu menggunakannya. Mungkin secara detilnya sebagai berikut ini:

  1. Garam adalah sebuah benda yang sederhana, tetapi memberi efek dan nuansa tersendiri. Lihat saja, semua masakan dapur pasti membutuhkan garam. Tidak peduli masakan apa, dari daerah mana, untuk kalangan mana, pasti ada unsure garam di dalamnya.
  2. Garam terjangkau oleh semua orang. Murah harganya, tetapi fital fungsinya.
  3. Garam larut ke dalam masakan. Garam tidak menonjolkan diri. Biar pun fungsinya fatal (masakan menjadi hambar jika tidak ada garam), tetapi saat dipakai ia melarutkan diri dalam masakan.
  4. Garam tidak egois. Masakan menjadi nikmat bukan hanya karena ada garam saja, tetapi karena campuran dari bumbu-bumbu yang ada, dan garam membutuhkan unsure yang lainnya. Berarti garam juga menginspirasi bumbu yang lain, membuat campuran bumbu sangat berguna.
  5. Garam akan sangat berguna dalam menambah kenikmatan sebuah masakan, asal dengan takaran yang pas. Biar pun fungsinya fital, ia tidak boleh digunakan digunakan terlalu banyak atau sedikit. Pas saja sesuai kebutuhan. Jika kelebihan akan menjadi sangat asin, jika terlalu sedikit akan hambar.
  6. Garam berfungsi bukan untuk dirinya, tetapi untuk kebaikan di luar dirinya. Ia membuat enak masakan, dan dinikmati oleh orang. Garam tidak memikirkan dirinya, ia diciptakan untuk semua hal di luar dirinya.

Jadi seberapa kualitas diri kita? Kita sendiri yang bisa merenungkannya…. Sudahkah kita bersikap seperti garam tadi. Jika hidup seperti garam yang baik, tentunya hidup kita akan sangat berkualitas. Yang pertama, kita harus menyadari dan mensyukuri bahwa kita semua adalah garam. Kita masing-masing dikaruniai potensi dan bakat yang bisa membuat kebaikan bagi semua orang. Jika sudah menyadarinya, langkah selanjutnya adalah bertingkah laku seperti garam. Kita berbuat sesuatu untuk kebaikan, tidak peduli apa bakat kita, tidak peduli apa status kita, kita bisa menginspirasi orang lain. Tidak perlu menonjolkan diri, cukup bersikap dan bertingkah laku sesuai kapasitas kita. Selalu berpikir dan berbuat untuk kebaikan lingkungan dan orang lain, tidak pernah egois memikirkan diri sendiri. Saat sudah seperti itu, kita hidup dengan kualitas bagus. Jika sudah berkualitas, siapakah yang akan bahagia nantinya?

Saya menjadi ingat dengan kejadian yang saya alami. Saat naik kereta, di sebuah stasiun, naiklah dua orang perempuan setengah baya. Yang menarik perhatian adalah bahwa 2 orang tadi berupa satu ibu-ibu yang menuntun seorang ibu-ibu yang sepertinya buta. Menarik, karena memang sangat ibu yang menuntun tadi terlihat sangat tulus membantu. Bukan hanya menuntun, tetapi juga terlihat sangat menyayanginya. Tidak peduli dengan pandangan semua orang, ia mengajak ngobrol ibu yang buta tadi. Entah apa hubungan di antara keduanya, tetapi yang terasa adalah hubungan saling mengasihi. Saat mencari tempat duduk pun, ibu tadi berusaha memberikan yang terbaik buat ibu buta tadi, bahkan ia rela berdiri, biar pun sebenarnya ia lebih tua. Bahkan bukan hanya kepada ibu buta tadi, saat ada rombongan penumpang berebutan mencari kursi, ia pun tanpa diminta mempersilahkan seorang remaja putri untuk menduduki tempat duduknya. Biar pun ditolak halus tentunya, rupanya semua sikap ibu tadi membuat penumpang satu gerbong menjadi terpengaruh. Dalam perjalanan selanjutnya, setiap ada penumpang wanita yang berdiri, tanpa diminta banyak orang yang mempersilahkan kursinya dipakai. Semua seakan bersaudara, padahal tidak saling mengenal. Saat itulah saya berani mengatakan dalam hati, bahwa saya mengagumi ibu tadi. Ia sungguh menjadi garam dunia. Ia seorang ibu yang biasa saja, bahkan sangat sederhana. Ia juga berbuat sesuatu yang sederhana, tetapi dikerjakan dengan tulus dan gembira. Terlihat ia murah senyum dan bisa ngobrol secara nyaman dengan siapa pun. Berbuat sederhana, tidak memperdulikan diri sendiri, selalu untuk orang lain. Dan ia menginspirasi banyak orang lain. Biar pun begitu, ia tidak terlalu mengacuhkannya, tidak menjadi sombong…. Bahkan saya rasa tidak menyadari bahwa ia menginspirasi banyak orang hari itu. Ia sungguh garam dunia. Saat seperti itulah, hidupnya sangat berkualitas. Siapa yang bahagia? Tentunya dia sendiri, juga orang lain di sekitarnya, dan tentunya Sang Penciptanya, Tuhan sendiri.…..(Set)

Pursuit Of Happyness

Beberapa topic dan pertanyaan yang sering diajukan di kolom konsultasi media massa adalah tentang kebahagiaan hidup. Banyak yang dulu yakin bahwa hidupnya akan bahagia jika mempunyai istri atau suami yang diidamkan, tetapi setelah bertahun-tahun kemudian mulai dirasakan bahwa kebahagiaan yang diidamkannya semakin menjauh. Seiring intensitas pertengkaran, mulailah timbul keraguan, jangan-jangan ia telah salah memilih suami atau istri, dan otomatis yakin bahwa ia tidak akan bahagia jika terus mempertahankan kehidupan berkeluarganya. Begitu banyak kini perceraian yang terjadi di sekitar kita.

Ada juga yang mengalami kekosongan, kesepian, dan hidupnya gersang, padahal semua mimpinya yang dulu telah tercapai. Karirnya telah mentok ke tingkat yang dulu diidamkan, demikian juga dengan materi yang diperoleh. Tetapi ternyata kepuasan yang menyertainya hanya sebentar. Dulu berpikir, saat nanti sudah menjadi manager dan bisa membeli ini dan itu, pasti hidupnya akan puas, sehingga kebahagiaan pun akan dirasakan selamanya. Tetapi ternyata tidak kenyataannya. Setelah tercapai, pikiran dan perasaan kini dipenuhi berbagai keinginan lagi dan lagi. Sampai kapan akan terus begini? Hidup serasa hanya mengejar sesuatu terus setiap waktu…..

Pun saya juga pernah punya teman yang dulu pernah berangan, alangkah bahagianya jika ia bisa punya wajah dan penampilan yang menarik seperti idolanya. Ia pun kemudian bekerja keras setiap hari pergi ke Gym, berharap minimal tubuhnya akan berotot dan atletis seperti idolanya. Tetapi yang terjadi kemudian, waktunya hanya dihabiskan hanya untuk memenuhi keinginan tentang fisiknya. Kuliah menjadi terbengkelai, hingga semuanya sepi saat teman seangkatan mulai meninggalkannya karena lulus terlebih dahulu. Dan saat badannya mulai terbentuk, goncangan pun menghampiri keyakinannya. Ternyata idolanya tersangkut kasus dan harus mendekam di penjara. Kejadian itu ternyata mempengaruhi dia juga, seakan dia juga yang terkena kasus. Kebahagiaan yang diidamkannya ternyata sangat semu, apalagi karena meletakkannya kepada orang lain. Dia menjadi sedih dan luntang-lantung…..

Betapa banyak lagi contoh-contoh actual yang menggambarkan pencarian orang akan kebahagiaan. Dan rata-rata mengatakan bahwa akan memperoleh kebahagiaan jika suatu saat memperoleh ini dan itu, akan bahagia jika istri/suaminya begini dan begitu, akan bahagia jika cita-citanya terkabul, dan lain-lain. Jadi kapan akan bahagia? Ya nanti, jika sesuatu yang diinginkan itu tercapai…. Dan akhirnya, dimana kebahagiaan itu akan diperoleh?

Jika melihat jawaban-jawaban yang dilontarkan oleh orang-orang di atas tadi, maka jelas, rupanya kebahagiaan itu terletak di suami/istrinya, di materi, di jabatan yang diinginkannya sejak lama, di cita-cita semasa kecil, di pundak orang tua, di keadaan yang diharapkan, dan lain-lain. Tetapi benarkah kebahagiaan terletak disana? Jika benar bahwa seseorang  akan bahagia jika beristri/bersuami orang yang dia idamkan, mengapa begitu ada perselisihan lalu merasakan sedih, dan tidak jarang berakhir pada perceraian? Jika benar bahagia tidaknya hidup seseorang terletak di materi yang diimpikan, lalu bagaimana nasib hidupnya selama belum mencapai materi itu? Dan mengapa setelah tercapai pun hati tetap menginginkan hal-hal yang lain lagi? Apakah seperti itu? Berarti hidup kita, dan kebahagiaan kita, terletak pada sesuatu dan orang lain. Alangkah rentan dan riskannya kebahagiaan itu jika seperti itu.

Sungguh akan sangat sulit untuk bahagia jika kebahagiaan itu terletak di materi dan kehadiran orang lain, karena dalam hidup tidak ada yang tetap. Semua pasti berubah. Demikian juga dengan materi yang kita miliki. Itu akan mudah berubah. Sekarang punya ini dan itu, besok bisa saja rusak bahkan hilang. Berarti saya menjadi tidak bahagia bukan? Jika tidak rusak atau hilang pun, rasa puas yang menyertainya tidak akan bertahan lama, dan segera akan kita sadari bahwa bukan disana kita akan bahagia. Demikian juga dengan orang-orang terdekat kita. Mereka juga adalah pribadi yang pasti berubah di mata kita. Entah berubah semakin baik, atau semakin kurang baik, sama saja, suatu saat akan tidak sesuai dengan yang kita bayangkan dulu. Saat seperti itulah, akan muncul pertanyaan, bisakah saya bisa bahagia dengannya? Dan mulailah muncul yang namanya penderitaan.

Saya rasa memang akan seperti itu. Siapa pun yang menduga dan mencari kebahagiaan melalui materi dan orang lain, entah seberapa dekatnya hubungan dengan orang lain itu, tidak akan mendapatkannya. Mungkin sesaat merasa bahagia, tetapi pasti suatu saat akan menemukan kekecewaandan berakhir penderitaan. Mengapa? Ya karena kebahagiaan itu tidak terletak pada barang, pun tidak terletak di pundak orang lain, bahkan di suami/istri/orang tua/anak/dan lain-lain. Jadi percuma mencari dan menggantungkan kebahagiaan pada mereka. Seperti suatu pencarian yang tidak akan pernah berakhir dan menjadi sebuah ironi, karena yang dicari sebetulnya ada di dalam diri kita masing-masing…..

Kebahagiaan adalah sebuah rasa pemenuhan batin/hati kita terhadap kehidupan. Bukan soal kepuasan terhadap sesuatu, tetapi rasa penuh, takjub, dan rasa syukur terhadap segala hal. Kita bisa bahagia jika bisa melihat segala sesuatu secara apa adanya, tanpa ada maksud rasa memiliki secara mutlak. Kita bisa bahagia jika bisa bersyukur akan kehadiran suami/istri di sisi kita, dengan tetap membiarkan mereka menjadi pribadi yang bebas dengan jati dirinya. Kita bisa bahagia jika bersyukur atas segala sesuatu yang ada di dalam diri kita, bisa bersyukur atas segala anugerah yang diberikan ke kita, dengan tetap memperlakukan benda-benda itu sebagaimana fungsinya, yakni sekedar benda yang bisa membantu segala aktivitas dan mendukung berbuat baik bagi sesama. Kita bisa bahagia jika bisa melihat segala sesuatunya secara obyektif dan tanpa kehendak melekat padanya. Jadi kemanakah kita harus mengejar kebahagiaan kita? Tidak kemana-mana, cukup tengok, teliti, dan buka kran hati kita…Selalu bersyukurlah akan segala sesuatu, dan melihat segala sesuatunya tidak hanya dari sudut pandang pribadi dan ego kita. Pandanglah segala sesuatu dari sudut pandang orang lain, dan tentunya sudut pandang kehendak Tuhan..…..(Set)

Empat Ketrampilan Hidup Utama Penentu Kesuksesan

Masih banyak orang tua yang memandang bahwa nilai akademik adalah syarat utama agar sukses ke depannya. Hal ini membuat mereka menuntut banyak ke anak agar nilai akademiknya bagus, bahkan rela mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk lembaga kursus ataupun les privat. Jadi anak bisa saja seharian full, dari matahari terbit hingga terbenam selalu berkutat dengan materi kognitif sekolah. Apakah sebegitu mutlaknya nilai akademik ini bagi masa depan anak-anak kita? 

Menurut saya pribadi, nilai akademik ini tetaplah penting, karena biasanya menjadi pintu gerbang di sesi administrasi saat melamar pekerjaan. Atau bisa juga, nilai akademik ini adalah cerminan dari nilai daya juang dan kerajinan anak. Hanya saja, masalahnya tidak semua anak dianugerahi potensi di bidang kognitif/pengetahuan ini. Ini perlu kita sadari selaku orang tua. Dan perlu kita sadari dan yakini, bahwa anak kita pun dianugerahi potensi khusus bagi dia. Maka yang perlu kita lakukan adalah mengembangkan secara optimal potensi ini. 

Di sisi lain, selain potensi khusus ini, ternyata kunci keberhasilan hidup seseorang di masa depan (bahkan di masa kini) adalah lebih ke ketrampilan hidup. Jika nilai akademik yang tersurat di ijazah adalah pintu masuk melewati saringan pertama administrasi, maka penentuan selanjutnya adalah ketrampilan hidup. Sebagai contoh kecil, di sesi wawancara saat seleksi pekerjaan, ketrampilan berkomunikasi adalah kunci lolos dan tidaknya. Belum nanti saat mulai bekerja meniti karir ataupun di dunia usaha. 

Maka, sangat bijak jika kita selaku orang tua mulai berbenah. Alih-alih memacu anak dengan segala macam dril pengetahuan/kognitif, akan lebih menyenangkan jika memberi anak-anak kesempatan mengembangkan ketrampilan hidupnya. Lalu apa saja ketrampilan hidup utama yang harus dikembangkan sejak dini? 

Seperti yang diyakini oleh pemangku kebijakan di dunia pendidikan, terdapat 4 ketrampilan hidup/life skills yang harus segera dikembangkan, yakni Critical Thinking and Problem Solving (berpikir kritis dan menyelesaikan masalah), Creativity (kreativitas), Communication Skills (kemampuan berkomunikasi), dan Ability to Work Collaboratively (kemampuan untuk bekerja sama).  Empat ketrampilan hidup ini biasa disebut sebagai 4C.  

Maka disinilah orang tua harus pintar memilih sekolah yang tepat agar kemampuan 4C ini bisa berkembang baik. Ada sekolah yang mementingkan nilai akademik, ada pula yang mementingkan ketrampilan hidup. Darimana kita tahu? Bisa dilihat dari program sekolahnya, dan sistem pembelajarannya.  

Lalu bagaimana dengan kita yang mungkin sudah dewasa dan sudah bekerja? Menurut saya sama saja. Kunci sukses kita tetap di 4C ini, karena memang ketrampilan hidup ini menyertai segala sendi kehidupan kita. Maka segera buat program pengembangan diri ke arah 4C ini! Dan kami siap karena memang ahlinya di bidang ini. Kami tunggu ya….  

Membangun Kewibawaan Diri

Dalam kehidupan sehari-hari, saya yakin kita semua pernah bertemu dengan seseorang yang dianggap disegani karena wibawanya oleh banyak orang. Tokoh masyarakat misalnya.  Seringkali orang yang disegani ini sudah berumur dan banyak makan asam garam dunia. Tetapi ternyata banyak juga yang usianya masih muda.

Bahkan, saya meyakini bahwa di antara orang terdekat kita, ada sosok yang demikian, yang membuat kita kagum dan hormat, meskipun beliau tidak meminta untuk dihormati. Orang seperti ini tidak mesti seorang bos atau pemimpin di tempat kita kerja. Bahkan orang yang sangat sederhana hidupnya pun banyak yang disegani dan dihormati karena kewibawaannya. Lalu bagaimanakah dengan kita? Saya yakin, banyak dari kita yang juga mengharapkan bisa menjadi sosok yang demikian.

Sebenarnya apa sih kewibawaan itu? Apakah itu semata-mata sebuah takdir yang dihadiahkan Tuhan untuk seseorang? Apakah itu bawaan lahir seperti pendapat orang-orang? Menurut saya pribadi, tidak ada yang salah dengan contoh pendapat di atas, karena rasa segan dan hormat biasanya berkaitan juga dengan rasa. Tetapi saya juga yakin  tidak semua orang paham bahwa kewibawaan itu bisa ditumbuhkan dan ditingkatkan, karena kewibawaan atau wibawa itu sendiri merupakan suatu kecakapan atau ketrampilan hidup. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wibawa adalah pembawaan untuk dapat menguasai dan mempengaruhi, dihormati orang lain melalui sikap dan tingkah laku yang mengandung kepemimpinan dan penuh daya tarik.

Dengan merujuk arti kata wibawa di atas, maka sangat terbuka bagi semua orang untuk menjadi orang yang mempunyai wibawa/berwibawa. Yang dibutuhkan adalah melatihnya, seperti kecakapan hidup yang lainnya. Jika bingung mau memulai dari mana, sebagai langkah awal, kita bisa melatih kecakapan kita dalam berkomunikasi dan public speaking. Kecakapan ini sangat dekat dan erat dengan kehidupan kita sehari-hari, sehingga memang strategis untuk dikembangkan. Langkah awal ini menjadi gerbang untuk sukses ke depannya. Bahkan di dunia pendidikan di abad 21 ini, ketrampilan/kecakapan berkomunikasi menjadi pilar pokok yang harus ditanamkan ke peserta didik, mengingat urgennya bagi kunci sukses masa depan mereka.

Maka siapapun kita, semua dapat menjadi orang yang berwibawa dan dihormati oleh orang lain, termasuk oleh anak kita sendiri.  Yang perlu dilakukan segera adalah memulai membangunnya dari hari ke hari, karena sebuah ketrampilan membutuhkan best practice setiap saat. Dan kami siap untuk menjadi rekan terbaik, sehingga prosesnya menjadi lebih efektif karena menyediakan program terstruktur. Apakah hanya untuk orang dewasa? Justru semakin muda akan semakin optimal hasilnya. Kami tunggu ya…

Modal Utama Sebuah Perusahaan di Era Revolusi Industri 4.0

Menarik untuk mencermati dan berpikir lebih dalam, fenomena perjalanan sebuah perusahaan atau organisasi di era pandemi ini. Selain banyaknya perusahaan yang gulung tikar, ternyata tidak sedikit juga perusahaan yang justru berkembang pesat, bahkan mulai bermunculan perusahaan baru. Lalu apa sih sebenarnya yang terjadi dan mengapa?

Mungkin hal ini tidak terlepas dari manajemen perusahaan sendiri. Bagaimana segi pandang perusahaan terhadap aset atau modal. Tentu satu modal yang menurut saya pribadi sangat menentukan adalah modal sumber daya manusia, atau ringkasnya modal manusia. Apakah perusahaan, minimal jajaran atas perusahaan memandang manusia sebagai
modal/capital yang bermutu tinggi, dan mampu memberikan nilai kompetitif yang kuat bagi perusahaan. Setelah dari segi pandang, lalu bagaimana memanagenya juga tidak kalah lebih penting.Bagaimana perusahaan mengatur proses dan strateginya, baik secara eksternal maupun internal.

Bersyukurlah jika sebuah perusahaan sudah mempunyai modal manusia berupa tenaga kerja yang berkualitas tinggi, dapat merencanakan, mengorganisasi, mengelola pekerjaan, dan semuanya terkait dengan teknologi informasi. Dan tidak kalah penting adalah conflict management skill di era ini. Karena untuk membangun modal manusia seperti ini harus dimulai sejak dini dari kelompok bermain atau pre-school, sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan menengah atas, juga menengah kejuruan, bukan dari perguruan tinggi. Jelas disini bahwa modal manusia berkualitas tinggi seperti di atas ternyata dicapai melalui proses panjang yang namanya pendidikan karakter. Lalu bagaimana jika modal manusia yang ada saat ini belum memenuhi standar tersebut?

Bagi saya pribadi, ada dua cara yang bisa ditempuh untuk mencapai hal itu. Yang pertama adalah memperbaharui model kepemimpinan, yakni kepemimpinan yang menyadari bahwa ide, keputusan, dan inovasi dapat timbul dari kolaborasi dan jejaring secara terbuka. Dibutuhkan kepemimpinan yang adaptif, mudah terhubung, kolaboratif, responsif terhadap setiap situasi dengan cara yang adaptif, dan berani mengambil keputusan yang tepat dan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Pemimpin adalah para penghubung yang andal yang responsif dalam sistem kolaborasi. Yang kedua adalah secara terstruktur mengupgrade seluruh sumber daya manusianya, dengan mengadakan pelatihan-pelatihan yang sesuai tuntutan era 4.0, yang segera akan mengarah ke era 5.0. Segera ciptakan budaya kerja dan budaya layanan yang GESIT dan TIDAK BERBELIT. Darimana memulainya? Bisa segera dari jajaran garda depan, yakni yang bersinggungan langsung dengan konsumen dan masyarakat seperti saptam, CS, dan lain sebagainya.

Itulah solusi ringkas tapi cepat dan real yang bisa dilakukan di era ini. Dan kami, RMI memang mempunyai visi misi yang sejalan dengan ini. Silahkan kontak kami dan berdiskusi untuk segera membangun modal utama perusahaan ini, agar survival dan berkembang di era seperti ini. Salam… (By SetTech)

Cara Mengatasi Learning Loss Di Masa Pandemi Covid 19

Tidak terasa, setahun lebih kita harus hidup di masa pandemi seperti ini. Bahkan, kita pun tidak tahu pasti, akan seberapa lama lagi masa-masa seperti ini akan berlangsung. Setahun, dua tahun, atau lima tahun lagi? Tidak ada yang tahu secara pasti. Bisa dikatakan, masa pandemi ini menjadi masa yang sulit dijelaskan. Begitu banyak efek berantai yang menyertai kehadiran virus ini. Bahkan istilah-istilah baru pun bermunculan, seperti:

  • lock down
  • PPKM
  • Isoman
  • Ibaman
  • Isoja (work from home)
  • Isojar (learn from home)
  • Isoping
  • Isokan
  • learning loss
  • dan lain-lain.

Salah satu bahaya yang mengancam masa depan adalah learning loss, karena berkaitan dengan dunia pendidikan yang menjadi tulang punggung keberhasilan. Bukan hanya sekedar kehilangan dalam hal pengetahuan dan kinetetis, tetapi justru yang paling mengkawatirkan adalah learning loss dalam hal karakter. Dengan berubahnya metode pembelajaran dari offline menjadi online, atau tatap muka langsung di kelas menjadi tatap muka maya, maka sangatlah sulit untuk menanamkan (internalisasi) nilai-nilai kehidupan kepada anak, seperti nilai saling menghormati dan menghargai, nilai empati, bela rasa, ketrampilan sosial untuk hidup bersama, ketrampilan bekerja sama, kesadaran bahwa di atas langit masih ada langit dan beragamnya karakter teman sekelas, dan lain sebagainya. Dengan sistem online, peluang untuk kehilangan kesempatan belajar berbagi cipta-rasa-pelihara semakin besar. Jika masa ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan terlahir generasi egois. Apakah kita selaku orang tua akan membiarkan saja? Lalu bagaimana solusinya?

Back to basic: keluarga. Ini bisa menjadi solusi yang tepat untuk kita sadari dan kita pilih. Kita bisa mengurangi bahaya dan dampak learning loss pada anak-anak kita jika kita mau kembali meyakini dan menjalani peran kita sebagai pendidik utama dalam keluarga. Terlebih, di masa seperti ini, mau tidak mau waktu kebersamaan seluruh anggota keluarga semakin besar. Ini adalah peluang bagi kita selaku pendidik utama untuk internalisasi nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak kita. Luangkan waktu untuk menemani mengobrol dengan anak, mengajak bela rasa dengan memberi sedekah, berdoa dan mengucap syukur setiap saat dalam tindakan, memberi contoh bagaimana belajar itu sepanjang hayat dengan mengikuti pelatihan/training/seminar, dan menciptakan aura harmonis dalam keluarga. Niscaya anak akan belajar tentang nilai-nilai kehidupan bersosial dan bermasyarakat, karena keluarga adalah masyarakat terkecil.

 

Metode Pembelajaran Terbaik Untuk Anak Kita

“Anak-anak jaman sekarang berbeda dengan kita dulu. Tidak tahu etika….! Bikin emosi saja…”

Saya hanya tersenyum menanggapi keluhan rekan ronda di atas. Tidak menolak atau mengiyakan pendapatnya. Tetapi memang, tidak hanya sekali dua kali saya mendengarkan opini yang senada di atas. Banyak orang tua yang mengalaminya.

Saya jadi teringat pengalaman saat berkunjung ke sahabat masa kecil saya, kira-kira 5 tahun lalu. Begitu masuk ke ruang tamu, beberapa saat sahabat saya mengundang istri  dan anak-anaknya untuk ikut menemui saya sebagai tamunya, sekaligus mengenalkan betapa dia bangga punya sahabat seperti saya. Lalu salah satu anak laki-lakinya masuk dapur dan membuatkan kopi dan teh untuk kami semua. Dan di saat istri dan anak yang lain undur diri, justru anak laki-laki yang membuatkan minuman tadi masih diminta untuk menemani obrolan kami berdua sejenak, kurang lebih 5 menit. Sahabat saya beberapa kali ikut melibatkan anaknya dalam obrolan kami.

Setelah tinggal berdua, sambil ditemani kopi dan rokok, saya terbersit untuk menanyakan maksud dan tujuan sahabat saya tadi, mengapa meminta anaknya yang membuatkan minuman dan sejenak ikut mengobrol. Ternyata simpel. Dia ingin membiasakan anaknya untuk ikut menyambut tamu, bergantian membuatkan minuman, dan sejenak nimbrung saat memungkinkan. Dengan begitu, anaknya akan melihat sendiri, bagaimana cara ayahnya menyambut tamunya (yang kebetulan sahabat masa kecilnya), bagaimana berbasa-basi sejenak, bagaimana menjabat tangan atau merangkul sahabat, dan terlebih, bagaimana menghargai orang lain. Dan sahabat saya memberi contoh nyata, dia menghargai anaknya dengan melibatkannya dalam obrolan.

Bagi saya, pengalaman di atas sungguh luar biasa. Pantas saja, saat saya datang dan pulang, tidak perlu diajarin, anak-anaknya seperti sangat tahu etika menyambut tamu. Sebuah pembelajaran tentang hidup yang sangat tepat dan pas. Tidak perlu memberi banyak nasehat, yang biasanya akan lewat saja untuk anak jaman sekarang. Justru memberi contoh tindakan nyata, dan melibatkan anak untuk merasakannya.

Saya rasa model pembelajaran di atas tidak akan lekang oleh waktu, dan memang tepat untuk mendidik anak jaman sekarang. Maka, mari siapkan diri untuk pantas menjadi model dan panutan untuk anak-anak kita. Jika merasa belum pantas, mari terus belajar  mengembangkan diri, baik dari segi pengetahuan ataupun sikap hidup.

Terjebak Gejala

Terjebak Gejala

Beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa rekan diskusi hangat tentang masalah yang dihadapi kebanyakan orang tua jaman sekarang. Banyak orang tua merasa putus asa, menyerah, dan bahkan tidak mau tahu lagi dengan sikap anaknya sendiri yang menginjak remaja. Istilahnya terserah…. Bahkan tidak jarang mengambil jalan cepat, sibuk mencari sekolah yang menyediakan asrama, agar anak tidak di rumah, dan berharap asrama bisa memperbaiki sikap atau karakter anaknya yang suka membangkang, bicara nyolot, tidak menghargai orang tua, lekat dengan gadget, dan lain sebagainya.

Apakah masalah akan selesai? Belum tentu juga. Banyak juga pendidik yang sekarang hanya memposisikan diri sebagai pengajar, sekedar mentransfer pengetahuan, bukan ke mendidiknya. Jika sudah seperti ini, tentu saja permasalahan tidak selesai. Banyak orang tua, pendidik, atau mungkin kita sendiri, gampang terjebak pada yang tampak di mata kita. Anak bicara nyolot, tidak sopan, membangkang, berkelahi, dan sejenisnya, dengan mudah kita simpulkan bermasalah. Bahkan tidak jarang langsung memberi label: anak nakal, anak tidak tahu diri, anak tidak bisa diperbaiki lagi, dan lain-lain.

Padahal jika kita mau berpikir lebih dalam dan berefleksi, segala permasalahan di atas sebenarnya hanya gejala saja. Gejala yang terlihat di permukaan, yang mungkin dirancang Tuhan agar mudah dilihat oleh orang lain. Mungkin juga, setelah melihat gejala permukaan tadi, Tuhan mempunyai rencana bagi kita selaku orang tua, pendidik, atau orang yang lebih dewasa ini agar mau melihat apa yang ada dibaliknya. Jika anak kita nyolot, tidak sopan, membangkang, apa yang menjadi penyebabnya? Bukankah tidak mungkin, anak yang pada dasarnya baik, lambat laun jadi membangkang  jika tidak ada pemicunya? Nah… Jika mau sampai ke tahap ini, barulah kita akan sedikit demi sedikit menemukan masalah sebenarnya, sehingga bisa mencari solusi terbaik. Jika hanya sampai ke gejala, bagaimana mungkin bisa membuat solusi? Terlebih, yang tampak di permukaan itu hanyalah bagian yang sangat kecil, justru yang tidak terlihat itulah yang besar.

Mari kita biasakan diri untuk selalu melihat lebih ke dalam dari setiap pengalaman hidup kita, agar tidak terjebak oleh gejala. Niscaya, semua akan terasa indah. Jika belum terbiasa, maka tidak ada salahnya untuk konsultasi kepada yang ahli di bidangnya.

 

 

TRAINING HIPNO-EFT : SALAH SATU SOLUSI TEPAT MENGHADAPI KETAKUTAN AKAN PANDEMI COVID-19

Depresi akan covid-19

Hipno-EFT adalah gabungan ilmu Hipnoterapi dan Emosional Freedom Teknik. Terapi ini dilakukan dengan cara mengucapkan kalimat afirmasi sambil melakukan taping dengan jari  pada titik-titik meridian tertentu pada tubuh pasien.Teknik ini sangat powerfull untuk mengatasi gangguan yang bersumber dari gangguan psikis/ pikiran. Hipno-EFT merupakan imu yang berbasis pada teknologi pikiran.

Banyak alasan mengapa kita wajib menguasai teknologi pikiran :

  1. Manusia sampai sekarang masih menggunakan pikiran untuk kehidupannya.
  2. Hampir 75% lebih, penyakit fisik manusia bersumber dari pikiran, terlebih di masa-masa berat seperti masa pandemi covid-19 seperti yang sedang kita hadapi sekarang ini.
  3. Masyarakat luas sangat memerlukan pertolongan , namun banyak yang tidak paham harus pergi kemana.
  4. Di sekolah/ kuliah tidak diajarkan, padahal sangat dibutuhkan dalam menghadapi kehidupan nyata.
  5. Kita memiliki tanggung jawab untuk membantu generasi muda agar memiliki kehidupan yang lebih sukses dan bahagia, apapun beban yang harus dihadapi mereka.
  6. Permasalahan yang timbul di masyarakat sangat beragam dan terus berkembang, dan memerlukan metode baru dan bervariasi dalam membantu.

Manfaat Terapi Hipno-EFT :

  1. Membantu melepaskan emosi negative yang disebabkan: stress, depresi, cemas, dendam, benci, kurang percaya diri, terlebih saat menghadapi situasi yang tidak menentu seperti masa pandemi ini.
  2. Menghancurkan keyakinan negative/ mental blok yang menghambat kemajuan hidup kita.
  3. Membantu menyembuhkan traumatic,fobia (takut ulat, takut gelap, takut ketinggian, takut akan ketidakpastian hidup, dll)
  4. Membantu menanamkan program pikiran positif dan membantu kesuksesan dalam mewujudkan impian seseorang.
  5. Dapat diterapkan untuk diri sendiri, keluarga dan membantu masyarakat luas.

TOMBOL AJAIB YANG MENJADIKAN BAHAGIA DAN SEMANGAT

Anchor

Pernahkah anda mengalami di suatu waktu Anda mendengar lagu dengan judul tertentu, belum lagi lagu selesai bait baitnya, anda terbawa dan hanyut teringat satu peristiwa tertentu , atau lagu itu menghentak ingatan anda pada seseorang di masa lalu. Ayo jujur pernah kan? biasa kok sebagian besar manusia normal pernah mengalami hal ini kok.

Bisa saja ketika anda datang ke pesta bau parfum yang khas mengingatkan Anda pada seseorang yang pernah dekat dengan Anda, padahal orangnya sedang tidak bersama anda. Hanya dengan aroma parfum yang barangkali dipakai orang lain, pikiran anda seolah dibawa pada orang tersebut. Lagi lagi ini normal normal saja.

Lagu tertentu itu atau bau parfum merupakan tombol otomatis di pikiran yang membawa anda terasosiasi dengan kondisi lain yang pernah anda alami. Itulah tombol otomatis di otak yang disebut anchor.

Dalam bahasa Indonesia, Anchor artinya Jangkar. Dalam NLP Anchor merujuk pada suatu stimulus atau informasi yang diterima melalui sensor inderawi (Visual, Auditori, Kinestetik) serta memiliki respon yang bersifat asosiatif sehingga mengkibatkan suatu State (Mind and Body Are One System) tertentu.

Dalam praktiknya, Anchor bisa digunakan untuk mengakses State tertentu (baik senang maupun sedih) dengan menstimulus sensor inderawi. Misalkan saya hendak mengakses State Semangat dengan segera, maka saya menekan pergelangan tangan kiri saya, dan secara tiba-tiba perasaan dan kondisi tubuh saya langsung semangat.

Kok bisa? Ya. Itu ajaibnya Anchor.

Bayangkan apajadinya hidup anda  jika diri anda punya sejumlah tombol otomatis yang bisa mengatur seseorang menjadi gembira, menjadi mudah belajar, menjadi penuh energi, menjadi kuat dan termotivasi.  So apa yang terpikir wow alangkah mudahnya menjalani kehidupan ini.

Upsss NLP memberi anda berita baik. Jika anda tahu caranya ternyata tombol otomatis atau anchor itu bisa dibuat pada diri kita, diri anak anda.

Tentu anda penasaran untuk mengetahui bagaimana cara membuatnya, bagaimana seluk beluknya dan bagaimana memanfaatkannya. Sebelum anda memahami dan membuat anchor bagi diri anda.

Ada baiknya anda menyimak bagaimana sejarah penemuan anchor ini.

Adalah Ivan Pavlov ilmuan dan psikolog dari Rusia. Ia meneliti dan melakukan eksperimen terhadap sekelompok anjing.  Pada waktu tertentu sebelum jam makan, ia membunyikan bel. Kemudian anjing diberi makan. Saat bel berbunyi sang anjing itu mengeluarkan air liur seolah ia menciumi, membahui dengan detil dan merasakan makanan itu.

Hal itu dilakukan terus menerus dan berulang ulang. Saat sebelum anjing makan dibunyikan bel. Hari demi hari ritual ini dilakukan secara konsisten.

Lalu apa yang terjadi? ternyata  anjing mengeluarkan air liurnya secara spontan. Bahkan ketika bukan jamnya makan dan bel dibunyikan maka anjing spontan mengeluarkan air liur.

Bel seolah merupakan tombol atau anchor untuk keluarnya air liur sang anjing. Membunyikan bel merupakan proses menyusun anchor bagi anjing. Dan anchor ternyata merupakan reflek kondisioning, dan juga bisa terjadi pada manusia.

Anchor merupakan hal yang terjadi sehari hari

Anchor bisa saja terjadi sehari hari seperti ketika anda lihat  lampu merah indikasi rem di mobil depan anda menyala menjadikan Anda spontan menginjak rem. Lampu merah merupakan anchor dimana kaki kanan anda menginjak rem.

Ada orang yang ketika melewati tempat tempat yang disebut angker seperti kuburan spontan bulu kuduk berdiri dan merinding. Simbol simbol yang ada pada tempat “angker/wingit “ merupakan anchor yang menjadikan anda merinding atau takut.

Saat mengemudi di jalan anda mendengar suara sirine mobil polisi, spontan mungkin anda mencari cari apa ada yang salah melanggar rambu lalu lintas atau kecepatan terlalu tinggi?

Bisa jadi ketika anak anak memakai pakaian superman merasa lebih kuat dan perkasa, pakaian supermen merupakan anchor menjadi perkasa.

Ada pemain sepak bola amatir ketika memakai kaos dengan nomor punggung pemain favoritnya merasa lebih semangat dan punya power lebih.

Atau anak anda ketika mendapat tepukan di lengannya menjadi rajin belajar, karena tepukan di lengan membawa pada situasi ketika di kelas seluruh temannya tidak bisa mengerjakan soal dari gurunya, dan ketika anak tersebut diminta mengerjakan soal itu dia bisa lalu dipuji sambil menepuk lengannya sebagai anak rajin dan pandai oleh gurunya. Tepukan di lengan menjadi anchor dan ketika dipicu atau ditepuk kembali menjadikan dia rajin belajar.

Semua hal itu adalah anchor dalam keseharian, andapun bisa menemukan banyak anchor dalam keseharian anda. Dan lebih penting jika anda mendapatkan anchor positif maka kuatkan dan jika ada anchor negatif segera rusaklah anchor tersebut. Andapun bisa membuat anchor.

Selanjutnya bagaimana menciptakan Anchor dan teknik Anchor?  Ilmu yang luar biasa ini bisa Anda dapatkan dan rasakan pada saat Anda mengikuti pelatihan NLP Practitioner. Menarik sekali kan?