Jangan Berhenti Memberi Teladan

“Ahh…. Papa juga merokok tuh. Ngapain melarang saya…?”

Pernahkah mendengar bantahan seperti ini dari anak kita? Dan apa reaksi kita? Mungkin bingung menjawabnya, atau bisa juga ditanggapi dengan kemarahan. Yang jelas, jika pun belum mengalaminya, siap-siap saja untuk suatu saat mendengar orang yang kita beri nasehat membantah dengan membalikkan fakta. Bahkan jika niatnya tulus untuk kebaikan, bantahan seperti di atas semakin mungkin terjadi.

Nasehat memang baik, apalagi jika diutarakan secara tepat disertai niat tulus. Hanya saja, perlu dipikirkan, untuk jaman sekarang efektif tidak? Lalu, jika suatu saat anak kita membantah nasehat kita, apa yang sebaiknya kita lakukan? Ya jangan lelah untuk memberinya nasehat, atau jangan lelah juga mencari jalan lain agar niat baik kita bisa dipertimbangkan oleh anak kita.

Teladan! Inilah salah satu cara yang saya rasa bisa dipakai sebagai alternatif. Bukan hanya berlaku untuk rekan kerja, bawahan, tetangga, tetapi juga bahkan untuk anak dan angota keluarga kita yang lain. Jika kita memberi nasehat ke anak kita, maka anak kita mendengar. Bisa saja masuk telinga kiri lalu keluar kanan, tergantung pada suasana dan konsentrasi anak kita. Tetapi jika kita memberi teladan, anak kita akan melihat sendiri apa yang baik baginya, merenungkannya, dan mungkin menyimpulkan / membuat keputusan berdasar pilihannya sendiri secara bebas.

Beruntung saya mempunyai seorang rekan yang membuat saya yakin tentang makna keteladanan ini. Berkecimpung di dunia musik, termasuk menggantungkan hidup keluarga di sana, pastilah banyak tantangannya. Mulai dari hal kesehatan seperti tantangan godaan rokok dan minuman saat kerja di kafe-kafe atau hotel, sampai budaya negatif yang mengikutinya. Saya rasa tidak mudah bagi sebagian orang untuk menghindari hal ini jika berkecimpung selama puluhan tahun di sana. Tetapi rupanya keputusannya sudah bulat. Bukan berdasar untuk kesehatan dan kebaikan pribadi, tetapi juga terlebih karena mempertimbangkan kebaikan keluarganya. Dan sebagai konsekuensi positifnya, di usia yang hampir 60 tahun, rekan saya ini masih terlihat sehat dan bugar, anak-anak berhasil bukan hanya dalam hal pendidikan di sekolah, tetapi juga dalam hal karakter. Tidak ada anaknya yang merokok, apalagi minum minuman keras. Ketika saya tanya apa resepnya, rekan saya berkata dia tidak pernah melarang anak-anaknya untuk ini dan itu, tetapi selalu menyerahkan ke mereka untuk memilih sendiri setiap keputusan. Orang tua hanya memberi masukan, dan yang terpenting memberi contoh. Rupanya anak-anaknya tidak perlu dinasehati, tetapi sudah cukup untuk melihat dengan mata sendiri apa yang baik dari karakter yang diperlihatkan orang tuanya.

Tetapi ada juga pengalaman dari rekan yang lain, mungkin dialami oleh kita semua. Kita sudah berusaha untuk bukan hanya memberi nasehat, tetapi juga dibarengi dengan memberi contoh dan teladan nyata. Kenyataannya bisa saja tindakan kita tidak digubris oleh orang lain, atau kadang bisa juga malah ditanggapi secara sinis. Jika seperti itu, yang terasa adalah rasa lelah dan putus asa. Apalagi jika sudah menyangkut orang yang kita sayangi.

Sebagai manusia, rasa lelah itu adalah sangat manusiawi. Tetapi yang terpenting adalah, kita jangan sampai menyerah dan berhenti. Jika satu dua kali teladan kita seakan tak berbekas, ya tidak apa-apa. Lakukan lagi lain kali dengan niat tulus. Masih belum berhasil lagi, ya tidak apa-apa…. Tetap lakukan apapun rasa lelah dan jengkel kita. Rekan saya yang berhasil tadi bukan hanya sekali dan dua kali dalam memberi teladan nyata bagi anak-anaknya, tetapi bahkan seumur hidupnya bukan? Saya rasa inilah formulanya…. Boleh lelah untuk memberi nasehat, contoh nyata, dan teladan kebaikan bagi anak-anak kita, bagi semua orang, tetapi tidak boleh berhenti…. Batu karang sekeras apapun akan terkikis oleh tetesan air yang terus menerus bukan? Set)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *