Mengukur Kualitas Hidup Diri

“Mahal dikit tidak masalah, yang peng kualitasnya bagus….”

Waktu itu saya tidak segera menyahut perkataan teman saya. Perhatian saya masih tertuju ke deretan notebook di depan saya. Dalan hati saya tidak menyanggah anjurannya, dan memang dalam angan saya menginginkannya. Hanya dalam kenyataannya, apa pun notebook yang saya inginkan, harus saya sesuaikan dengan kondisi keuangan. Akhirnya saya pun membeli sebuah notebook yang pas buat saya. Pas dalam arti kualitasnya sesuai dengan spesifikasi yang saya inginkan, cocok untuk pekerjaan saya (saya hanya akan menggunakan notebook itu untuk menulis dan browsing), dan tentunya sesuai dengan uang yang ada.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengkaitkan segala sesuatunya dengan yang namanya kualitas. Mau membeli sesuatu, pasti yang dilirik pertama adalah kualitasnya (biar pun terkadang harganya dulu yang dilihat). Bahkan kadang dengan harga semurah-murahnya, menginginkan mendapatkan barang impian dengan kualitas bagus. Kita sering menuntut sesuatu dengan tolok ukur kualitas. Jika kita renungkan, alangkah kita sering mengukur dan menuntut segala sesuatu harus berkualitas. Tetapi uniknya kita jarang memikirkan sebaliknya, artinya berusaha memberikan sesuatu yang kita punya secara berkualitas. Pengennya mendapatkan sesuatu dengan kualitas bagus,tetapi jika memberi sesuatu ya ala kadarnya….. Masih untung mau memberi, kadang malah sebisa mungkin tidak memberi.

Saya pribadi menjadi berpikir, sebetulnya apa itu kualitas? Mungkin kualitas bisa diartikan sebagai tolok ukur tentang sesuatu. Dan tolok ukur itu tentunya hanya sebuah kesepakatan orang pada umumnya saja. Barang ini kualitasnya bagus karena ini dan itu. Yang itu kurang bagus karena ini dan itu. Hmmm…. Andaikan punya kehidupan, kasihan sekali ya barang yang ditakdirkan kualitasnya tidak bagus. Dan lebih-lebih, yang menentukan bagus atau tidaknya dia adalah manusia. Padahal tentunya setiap barang punya kegunaan yang pas sesuai peruntukkannya. Tidak lebih tidak kurang.

Lalu bagaimana dengan kita sendiri? Jika kita bisa menentukan segala sesuatu punya kualitas bagus atau tidak, apakah kita juga mau dan bisa menilai kualitas diri kita sendiri? Apakah yang bisa mewakili kualitas diri kita? Apakah baju kita? Jika memakai baju bagus, apakah otomatis kualitas kita bagus juga? Ataukah harta benda yang kita miliki? Ataukah kemampuan dan bakat yang Tuhan berikan kepada kita? Apakah orang yang cerdas berarti kualitasnya bagus? Jika memang kita diukur dengan tolok ukur kualitas, bagaimana nasib kita nantinya jika kualitas kita kurang dan jelek? Terakhir, siapakah yang akan senang dan bahagia jika kita berkualitas, dan siapa yang akan sedih jika kita tidak berkualitas?

Memang tidak ada yang tahu secara pasti, apakah yang membuat kita berkualitas atau tidak. Tetapi memang ada pengandaian yang bagus tentang kualitas kita, yakni bahwa kualitas kita bisa diumpamakan sebagai garam. Kenapa garam, ya karena garam adalah sebuah benda yang semua orang tahu dan selalu menggunakannya. Mungkin secara detilnya sebagai berikut ini:

  1. Garam adalah sebuah benda yang sederhana, tetapi memberi efek dan nuansa tersendiri. Lihat saja, semua masakan dapur pasti membutuhkan garam. Tidak peduli masakan apa, dari daerah mana, untuk kalangan mana, pasti ada unsure garam di dalamnya.
  2. Garam terjangkau oleh semua orang. Murah harganya, tetapi fital fungsinya.
  3. Garam larut ke dalam masakan. Garam tidak menonjolkan diri. Biar pun fungsinya fatal (masakan menjadi hambar jika tidak ada garam), tetapi saat dipakai ia melarutkan diri dalam masakan.
  4. Garam tidak egois. Masakan menjadi nikmat bukan hanya karena ada garam saja, tetapi karena campuran dari bumbu-bumbu yang ada, dan garam membutuhkan unsure yang lainnya. Berarti garam juga menginspirasi bumbu yang lain, membuat campuran bumbu sangat berguna.
  5. Garam akan sangat berguna dalam menambah kenikmatan sebuah masakan, asal dengan takaran yang pas. Biar pun fungsinya fital, ia tidak boleh digunakan digunakan terlalu banyak atau sedikit. Pas saja sesuai kebutuhan. Jika kelebihan akan menjadi sangat asin, jika terlalu sedikit akan hambar.
  6. Garam berfungsi bukan untuk dirinya, tetapi untuk kebaikan di luar dirinya. Ia membuat enak masakan, dan dinikmati oleh orang. Garam tidak memikirkan dirinya, ia diciptakan untuk semua hal di luar dirinya.

Jadi seberapa kualitas diri kita? Kita sendiri yang bisa merenungkannya…. Sudahkah kita bersikap seperti garam tadi. Jika hidup seperti garam yang baik, tentunya hidup kita akan sangat berkualitas. Yang pertama, kita harus menyadari dan mensyukuri bahwa kita semua adalah garam. Kita masing-masing dikaruniai potensi dan bakat yang bisa membuat kebaikan bagi semua orang. Jika sudah menyadarinya, langkah selanjutnya adalah bertingkah laku seperti garam. Kita berbuat sesuatu untuk kebaikan, tidak peduli apa bakat kita, tidak peduli apa status kita, kita bisa menginspirasi orang lain. Tidak perlu menonjolkan diri, cukup bersikap dan bertingkah laku sesuai kapasitas kita. Selalu berpikir dan berbuat untuk kebaikan lingkungan dan orang lain, tidak pernah egois memikirkan diri sendiri. Saat sudah seperti itu, kita hidup dengan kualitas bagus. Jika sudah berkualitas, siapakah yang akan bahagia nantinya?

Saya menjadi ingat dengan kejadian yang saya alami. Saat naik kereta, di sebuah stasiun, naiklah dua orang perempuan setengah baya. Yang menarik perhatian adalah bahwa 2 orang tadi berupa satu ibu-ibu yang menuntun seorang ibu-ibu yang sepertinya buta. Menarik, karena memang sangat ibu yang menuntun tadi terlihat sangat tulus membantu. Bukan hanya menuntun, tetapi juga terlihat sangat menyayanginya. Tidak peduli dengan pandangan semua orang, ia mengajak ngobrol ibu yang buta tadi. Entah apa hubungan di antara keduanya, tetapi yang terasa adalah hubungan saling mengasihi. Saat mencari tempat duduk pun, ibu tadi berusaha memberikan yang terbaik buat ibu buta tadi, bahkan ia rela berdiri, biar pun sebenarnya ia lebih tua. Bahkan bukan hanya kepada ibu buta tadi, saat ada rombongan penumpang berebutan mencari kursi, ia pun tanpa diminta mempersilahkan seorang remaja putri untuk menduduki tempat duduknya. Biar pun ditolak halus tentunya, rupanya semua sikap ibu tadi membuat penumpang satu gerbong menjadi terpengaruh. Dalam perjalanan selanjutnya, setiap ada penumpang wanita yang berdiri, tanpa diminta banyak orang yang mempersilahkan kursinya dipakai. Semua seakan bersaudara, padahal tidak saling mengenal. Saat itulah saya berani mengatakan dalam hati, bahwa saya mengagumi ibu tadi. Ia sungguh menjadi garam dunia. Ia seorang ibu yang biasa saja, bahkan sangat sederhana. Ia juga berbuat sesuatu yang sederhana, tetapi dikerjakan dengan tulus dan gembira. Terlihat ia murah senyum dan bisa ngobrol secara nyaman dengan siapa pun. Berbuat sederhana, tidak memperdulikan diri sendiri, selalu untuk orang lain. Dan ia menginspirasi banyak orang lain. Biar pun begitu, ia tidak terlalu mengacuhkannya, tidak menjadi sombong…. Bahkan saya rasa tidak menyadari bahwa ia menginspirasi banyak orang hari itu. Ia sungguh garam dunia. Saat seperti itulah, hidupnya sangat berkualitas. Siapa yang bahagia? Tentunya dia sendiri, juga orang lain di sekitarnya, dan tentunya Sang Penciptanya, Tuhan sendiri.…..(Set)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *