Menipisnya Kadar Toleransi

“Aduh…. Maaf ya Sayang. Sudah lama menunggunya…?

“Sudah tahu pakai nanya lagi! Kok tega-teganya seh? Membuat orang menunggu selama ini?”

Dan yang terjadi selanjutnya adalah tumpahan kekesalan yang keluar deras, atau bisa juga diam tetapi muka menjadi cemberut. Jika awalnya ingin menghabiskan waktu bersama untuk memperoleh keceriaan, bisa-bisa semua sirna padahal belum memulainya. Rencana yang sudah direncanakan bisa menjadi sia-sia. Jika keadaan sudah menjadi kacau seperti itu, terkadang butuh waktu untuk memulihkan kembali suasana hati bukan? Lalu bagaimana jika kesalahan itu ternyata dilanjutkan oleh kesalahan yang lain?

Rasa kesal, marah, dan jengkel, itu mungkin yang akan kita rasakan saat pasangan kita mulai melakukan kesalahan. Bahkan bukan tidak mungkin bisa mengurangi rasa simpati kita. Padahal di awal perkenalan dan kemudian berlanjut ke relasi pertemanan kesalahan / kekilafan kecil seperti keterlambatan, lupa akan janji, dan sejenisnya bisa kita tolerir dan kita maklumi. “Ah, tidak apa-apa. Ini hanya masalah kecil kok…. Dia tetap yang terbaik.” Mungkin itu yang terlontar dalam hati kita dulunya. Cuma herannya, setelah relasi berlanjut ke tahap yang lebih dekat, pacaran misalnya, kesalahan-kesalahan kecil seperti di atas bisa menjadi sesuatu yang cukup untuk menyulut pertengkaran. Apalagi jika relasinya sudah berlangsung dalam waktu yang lama, wah bisa-bisa mengurangi rasa suka dan sayang kita. “Kok dia sekarang seperti ini ya? Tidak tepat waktu, tidak peka, tidak perhatian seperti dulu. Sekarang berubah… Ih, menyebalkan! Bikin jengkel saja!”

Benar begitu ga seh? Ehmmmm… Mungkin tidak semua mengalaminya juga seh. Tetapi jika kita renungkan, banyak juga yang mengalami proses seperti contoh di atas. Bahkan ada seorang rekan yang sharing, karena pusingnya dia sampai bilang ke pacarnya, mengapa seh sekarang sedikit-sedikit mengeluh? Salah sedikit saja sudah diomeli, bahkan terkadang pakai ngambek berhari-hari segala? Bagaimana jika sikapnya diubah saja seperti dulu, saat masih menjadi teman? Jadi biarpun statusnya pacar, sikapnya seperti pertemanan saja, karena dulu saat masih berstatus teman rasanya kok lebih menyenangkan? Datang terlambat, ya tidak apa-apa. Lupa akan janji, ya dimaklumi. Semua terasa berjalan lurus, penuh toleransi akan kelemahan atau kekurangan yang dimiliki teman.

Saat mendengar sharingnya saya juga mengamini, karena pernah mengalaminya juga. Pernah suatu saat pinggang saya yang bengkak tersenggol oleh orang yang berpapasan. Saya pun meringis kesakitan. Tetapi begitu orangnya meminta maaf saya pun segera memaafkan. “Oh tidak apa-apa kok Pak….” Besoknya, saat bercanda secara tidak sengaja pacar saya memukul bagian tadi. Dan yang terlontar spontan adalah perkataan penuh emosi: “Gimana seh? Kan sudah saya bilang, pinggang saya bengkak!” Hehehe…. Itu pun saya barengi dengan mimik marah dan jengkel. Saat dia minta maaf pun muka saya masih seperti belum rela memaafkan. Nah seperti itulah contoh kecil yang pernah saya alami. Bukan hanya sekali dua kali, tetapi banyak kali, tentu dengan berbagai pengalaman yang saya alami.

Mengapa bisa begitu ya? Entahlah. Sepertinya kadang kita menuntut terlalu banyak ke pasangan kita, sehingga kadar toleransi kita menurun. Beda saat masih sebatas teman. Dulu penuh toleransi. Sekarang setelah menjadi pacar, kesalahan sedikit bisa terasa sangat menjengkelkan. Mungkin juga jenis cinta kita yang masih dangkal. Punya pacar, tetapi hanya untuk memenuhi kesenangan sendiri. Saya senang jika pacar saya begini dan begitu, padahal pacar saya tentulah punya pribadi unik sendiri bukan? Padahal kalau benar-benar cinta, harusnya belajar menerima apa adanya… Biarlah dia menjadi dirinya sendiri, bukan menjadi seperti yang kita harapkan. Dengan berjalannya waktu relasi, bisa kita renungkan, sampai batas mana toleransi kita terhadap kelebihan dan kekurangan pasangan kita. Makin toleran atau semakin tidak toleran? Jika justru semakin tidak toleran, itu menandakan dangkalnya cinta kita…. (Set).

Published: Januari 13, 2022

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

Scroll to Top

Sign Up For Our Newsletter

Get daily insight and update containing tips, skills for your creativity

Zero Spam. You Can Unsubscribe Anytime