Terjebak Gejala

Terjebak Gejala

Beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa rekan diskusi hangat tentang masalah yang dihadapi kebanyakan orang tua jaman sekarang. Banyak orang tua merasa putus asa, menyerah, dan bahkan tidak mau tahu lagi dengan sikap anaknya sendiri yang menginjak remaja. Istilahnya terserah…. Bahkan tidak jarang mengambil jalan cepat, sibuk mencari sekolah yang menyediakan asrama, agar anak tidak di rumah, dan berharap asrama bisa memperbaiki sikap atau karakter anaknya yang suka membangkang, bicara nyolot, tidak menghargai orang tua, lekat dengan gadget, dan lain sebagainya.

Apakah masalah akan selesai? Belum tentu juga. Banyak juga pendidik yang sekarang hanya memposisikan diri sebagai pengajar, sekedar mentransfer pengetahuan, bukan ke mendidiknya. Jika sudah seperti ini, tentu saja permasalahan tidak selesai. Banyak orang tua, pendidik, atau mungkin kita sendiri, gampang terjebak pada yang tampak di mata kita. Anak bicara nyolot, tidak sopan, membangkang, berkelahi, dan sejenisnya, dengan mudah kita simpulkan bermasalah. Bahkan tidak jarang langsung memberi label: anak nakal, anak tidak tahu diri, anak tidak bisa diperbaiki lagi, dan lain-lain.

Padahal jika kita mau berpikir lebih dalam dan berefleksi, segala permasalahan di atas sebenarnya hanya gejala saja. Gejala yang terlihat di permukaan, yang mungkin dirancang Tuhan agar mudah dilihat oleh orang lain. Mungkin juga, setelah melihat gejala permukaan tadi, Tuhan mempunyai rencana bagi kita selaku orang tua, pendidik, atau orang yang lebih dewasa ini agar mau melihat apa yang ada dibaliknya. Jika anak kita nyolot, tidak sopan, membangkang, apa yang menjadi penyebabnya? Bukankah tidak mungkin, anak yang pada dasarnya baik, lambat laun jadi membangkang  jika tidak ada pemicunya? Nah… Jika mau sampai ke tahap ini, barulah kita akan sedikit demi sedikit menemukan masalah sebenarnya, sehingga bisa mencari solusi terbaik. Jika hanya sampai ke gejala, bagaimana mungkin bisa membuat solusi? Terlebih, yang tampak di permukaan itu hanyalah bagian yang sangat kecil, justru yang tidak terlihat itulah yang besar.

Mari kita biasakan diri untuk selalu melihat lebih ke dalam dari setiap pengalaman hidup kita, agar tidak terjebak oleh gejala. Niscaya, semua akan terasa indah. Jika belum terbiasa, maka tidak ada salahnya untuk konsultasi kepada yang ahli di bidangnya.